Bagaimana Berat Badan Seorang Pasien Kanker Nasofaring Stadium Akhir Dalam 3 Bulan Naik dari 39 Kg Hingga 55 Kg? - Kompas.com
Advertorial

Bagaimana Berat Badan Seorang Pasien Kanker Nasofaring Stadium Akhir Dalam 3 Bulan Naik dari 39 Kg Hingga 55 Kg?

Kompas.com - 15/05/2017, 10:10 WIB
How Peng Kooi saat pertama kali tiba di rumah sakit

How Peng Kooi seorang pasien asal Malaysia menderita kanker nasofaring stadium akhir, ditambah dengan adanya metastasis pada kelenjar getah bening di kedua sisi lehernya. Ukuran tumor pada nasofaring 6x4cm, leher kiri 7x8cm, leher kanan 13x9cm. pada Oktober 2016, How Peng Kooi datang ke St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk menjalani pengobatan, setelah menjalani 5 kali pengobatan Intervensi, saat ini tumor di nasofaring sudah mengecil hungga 60%, tumor pada kedua sisi lehernya telah hilang, berat badannya naik dari 39 kg menjadi 55 kg, efeknya sangat signifikan.

Darah Pada Air Liur, Ternyata Tanda Kanker Nasofaring

Pada Mei 2014, How Peng Kooi mendapati bahwa pada air liurnya terdapat darah, tenggorokannya tidak nyaman, dia lalu memeriksakannya ke dokter umum. Dokter mengatakan bahwa tenggorokannya terluka tapi tidak ada yang serius. Tetapi, gejala ini menjadi semakin parah, istrinya pun membawanya ke dokter spesialis THT.Setelah menjalani CT scan dan biopsi, dokter mendapati adanya kanker pada nasofaringnya. Dengan sikap positif dan optimis, How Peng Kooi tidak takut saat menerima diagnosis ini, dia mengatakan, “ketika saya mengetahui bahwa ini adalah kanker nasofaring, saya tidak takut. Saya berpikir kanker bukanlah penyakit yang serius, karena masing-masing dari kita memiliki sel-sel kanker dalam tubuhmu tidak ada yang menakutkan. Dalam menghadapi kanker ini, kuncinya terletak pada pikiran Anda sendiri, jadi saya menerima itu semua.”

Keyakinannya Justru Membuat Kondisinya Semakin Parah

Dokter di Malaysia menyarankannya untuk menjalani kemoterapi sistemik, tetapi dia dengan tegas menolaknya. Dia berkata: “dokter di Malaysia hanya bisa menyarankan kemoterapi sistemik, sel-sel yang normal juga ikut terbunuh, dan membawa efek samping yang besar untuk tubuh.” Selanjutnya, temannya mengenalkan satu jenis obat, dengar-dengar tidak ada efek sampingnya, setelah makan obat ini dapat meningkatkan sistem imunitas, dan sel-sel imunitas ini sendiri yang akan membunuh sel-sel kanker. Semua anggota keluarga tidak setuju, karena tidak ada bukti ilmiah dan sertifikasi atas obat-obatan tersebut dan menyarankan dia untuk melakukan pengobatan barat. Namun, How Peng Kooi sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran dari keluarganya, dia justru memarahi saudaranya dan tetap bertekad untuk mengkonsumsi obat itu.Keluarga pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima keputusannya.

Selama setahun, dia mengkonsumsi obat itu namun tidak ada efeknya sama sekali, tubuhnya semakin kurus dan muncul benjolan pada kedua sisi lehernya, yang semakin lama semakin membesar dan terus menerus mengeluarkan nanah, dia menjadi sulit berbicara dan makan.

Datangnya Pilihan Pengobatan Baru

Dengan kondisinya yang semakin memburuk, How Peng Kooi dan keluarga semakin tersiksa, hingga pada bulan Oktober 2016, adik istrinya melihat halaman St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Facebook. Di halaman Facebook banyak dijelaskan mengenai berbagai kasus kanker pada pasien, efek pengobatan yang baik, dengan menerapkan metode pengobatan Minimal Invasif tumor yang berukuran besar perlahan mengecil dan hilang.Pada saat itu, kebetulan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou mengadakan seminar gratis di Malaysia, adik istrinya pun segera mendaftar. Sesampainya di rumah, adik iparnya memaksa How Peng Kooi untuk menjalani pengobatan di rumah sakit itu, tapi How Peng Kooi yang keras kepala tidak semudah itu menerima usulan adik iparnya.Setelah adik iparnya berkali-kali mendorongnya, How Peng Kooi mulai memikirkan istrinya. Istrinya mengurus rumah sendiri, tidak bisa kemana-mana karena harus terus mengurusnya, nanah terus menerus keluar dari lehernya, semua istrinya yang mengurusnya. Dia berpikir istrinya sangat kasihan dan bebannya juga berat. Dia pikir akan lebih baik jika istrinya jalan-jalan keluar rumah, travelling, jadi saya pun setuju untuk melakukan pengobatan di China.

Tim Profesional MDT Merancangkan Program Pengobatan Dengan Teliti

Pada 13 Oktober 2016, How Peng Kooi tiba di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou dengan istrinya yang mendorong kursi rodanya. Saat pertama kali tiba di rumah sakit kondisinya sudah memasuki stadium akhir, berat badannya hanya 39 kg, dengan tinggi mencapai 170 cm dia seperti “tulang berbalut kulit”, orang-orang menjadi tersiksa dengan penyakit ini. Di saat yang sama tumor di nasofaringnya sudah sebesar 6x4cm, leher kiri 7x8cm, leher kanan 13x9cm, dia tidak bisa jalan, tidak bisa bicara dan sulit makan.

Menurut dokter Liang Feilv dan Profesor Hu Xiliu: “How Peng Kooi mengalami gizi buruk, dia sangat kurus. Situasi ini disebut cachexia, yaitu penurunan berat badan ekstrim yang berkaitan dengan kanker.Karakteristik yang paling menonjol adalah pasien sangat kurus. Menurut statistik, hampir setengah dari pasien kanker menderita penurunan berat badan ekstrim, dimana 10-25% diantaranya meninggal karena cachexia.Penyebab utama dari cahcexia ada 2, pertama karena pertumbuhan tumor yang agresif, adanya penyebaran ke berbagai organ sehingga sel tumor mengkonsumsi banyak kalori dan protein.Selain itu, pada pasien kanker stadium lanjut, pasien biasanya kehilangan nafsu makan, ada juga yang mengalami kesulitan makan, hal ini dapat mengakibatkan kekurang nutrisi yang sangat serius.Selain itu, cachexia menyebabkan jaringan otot berkurang, kehilangan vitalitas, sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh pasien, sel kanker dengan mudah berkembang dan bereproduksi.Jika pada pasien dengan kondisi fisik yang sangat lemah diberikan pengobatan anti-kanker, tubuhnya pasti tidak dapat bertahan.”

Tim MDT merancangkan dan mengatur pengobatan untuk How Peng Kooi secara teliti dan sesuai dengan kondisinya.Dokter pada awalnya tidak langsung menerapkan pengobatan anti-kanker kepadanya, tetapi melakukan terapi “perbaikan”.Pada bulan pertama, dokter menerapkan pengobatan komprehensif termasuk pengobatan Cina, Terapi Nutrisi dan lainnya.Setelah menjalani pengobatan komprehensif dan terapi nutrisi, nafsu makan dan kualitas tidurnya membaik, proteinnya meningkat, sistem imunitas meningkat.Setelah kondisi fisiknya membaik, baru diterapkan metode Minimal Invasif yang minim efek samping, efek pengobatan yang baik dan kelebihan lainnya.

Efek Pengobatan Yang Signifikan, Kondisinya Pun Membaik

Dua sampai tiga hari setelah menjalani pengobatan pertama, How Peng Kooi mendapatkan bahwa tumor di lehernya mengecil, dan pengobatan tidak menimbulkan efek samping sama sekali, dia sangat percaya pada pengobatan Intervensi. Setelah menjalani pengobatan kedua, benjolan pada kedua sisi lehernya pun menghilang, efeknya sangat jelas terlihat. Sejauh ini, dia telah datang ke rumah sakit kami 4 kali, dalam 10 minggu dia telah menjalani 5 kali Intervensi, kondisi fisiknya semakin membaik, berat badannya naik dari 39 kg menjadi 55 kg, kondisi mentalnya juga baik, tidak perlu menggunakan kursi roda lagi dan dapat beraktivitas normal. Tumor di nasofaringnya mengecil hingga 60%, dia menjadi lebih ceria dan hidup.

How Peng Kooi sangat puas dengan pelayanan di rumah sakit ini, dengan gembira dia mengatakan: “Di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou sama seperti berada di rumah, para dokter dan suster di sini sangat peduli, lingkungan rumah sakit juga sangat nyaman. Metode Intervensi benar-benar efektif, pengobatannya langsung tertuju ke pusat kanker, dapat membunuh sel kanker secara akurat tanpa menimbulkan efek samping apapun. Saya juga melihat bahwa setiap pasien yang pertama kali datang untuk pengobatan pasti kondisinya sangat parah, setelah menjalani 1-2 kali pengobatan kondisi jauh berbeda, menjadi semakin baik, rumah sakit ini benar-benar bagus.”

Selain dokter dan perawat, Hoe Peng Kooi juga sangat berterimakasih kepada istrinya yang selalu setia merawatnya sepenuh hati, juga kepada seorang Professor dari India. Dia berkata: “Profesor dari India sudah seperti Dewa, dia terus berkata kepada saya bahwa saya akan membaik, membuat saya penuh percaya diri melawan penyakit ini. Selama masa pengobatan, saya sering merasa bahwa dia ada disamping dan memberkati saya, tidak ada rasa sakit sama sekali selama proses pengobatan. Saya sangat berterimakasih kepadanya.”

Ketika berbincang tentang rencananya ke depan, How Peng Kooi mengatakan sesampainya di Malaysia saya akan bertemu seseorang untuk berdiskusi tentang bisnis, ketika perayaan tahun baru tiba, saya ingin berkumpul makan dan minum bersama teman-teman, dengan gembira menghabiskan tahun baru. Kami juga sangat berterimakasih dan gembira atas kesembuhan How Peng Kooi, semoga para pasien kanker lainnya tidak menyerah dan dapat segera menemukan pengobatan yang terbaik.

Cerita selengkapnya, klik disini

Kondisi How Peng Kooi saat ini

Foto bersama How Peng Kooi bersama istri dan para tim medis

Fight the fight, find the cure. Never surrender to cancer! Just need a little courage to confront, you will be well!

“Lawan kanker dan temukan pengobatan yang tepat. Jangan pernah menyerah!

Anda hanya butuh keberanian sedikit lagi untuk melawannya dan semuanya akan menjadi lebih baik!”

Jika Anda juga menderita kanker nasofaring atau kanker lainnya, silahkan konsultasikan keluhan Anda disini, Ahli Onkologi St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou akan membantu Anda merencanakan metode pengobatan terbaik. 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: