Konsumen adalah Teman, Bukan Lagi Raja - Kompas.com
Advertorial

Konsumen adalah Teman, Bukan Lagi Raja

Kompas.com - 07/07/2017, 14:30 WIB
- -

Pemilik Kampung Bakso, Rumah Sosis, Tahu Susu Lembang, Floating market, dan Farm House, Perry Tristianto kerap mendengarkan keinginan dan perubahan gaya hidup yang terjadi di masyarakat untuk menunjang bisnisnya. Dengan demikian, ia kerap turun lapangan untuk menemukan ide baru.

Bahkan, ia tak pernah malu untuk ikut jualan di pinggir jalan, ngurus parkiran, dan lain sebagainya yang tidak biasa dilakukan seorang pemilik usaha. Cara inilah yang membuatnya selalu tahu apa yang diinginkan oleh konsumen dan berapa banyak uang yang dikeluarkan konsumen saat mengisi liburannya.

"Kalau ada yang lagi happening, jangan ikutin produknya. Tapi ikuti konsepnya," kata dia.

Ia mencotohkan, di Bandung ramai dengan keripik pedas. Lalu, banyak orang ramai-ramai berbisnis keripik pedas. Padahal, menurut dia harusnya pengusaha hanya mengikuti konsep pedasnya.

Salah satu contohnya menciptakan makanan pedas lainnya. Dengan begitu, produk kita akan sukses karena mampu menciptakan pasar baru akibat unik.

Mengambil konsep inilah yang juga kerap diterapkan oleh Perry. Saat ramai tentang hijab, Perry menciptakan pasar kolam renang khusus hijaber, bukan berbisnis hijab. Kolam renang yang cukup mewah dengan nama hijab swimming pool ini pun laris di datangi oleh pengunjung.

"Yang harus kita ikuti adalah konsepnya, bukan produknya," kata dia.

Kesuksesan juga diraih saat ia mendirikan taman kelinci. Banyak pengunjung, khususnya anak-anak yang datang ke taman kelinci.

Taman kelinci bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang ingin memelihara binatang tetapi tidak diizinkan oleh orang tuanya. "Peluang ini yang saya tangkap," ungkap Perry.

Menurut Perry, seorang pebisnis juga harus pandai melakukan inovasi. Inovasi yang dilakukan di Floating Market Lembang salah satunya adalah menyewakan baju tradisional dari mancanegara. Ia akan menyewakan baju tradisional sesuai dengan tren, misalnya pakaian tradisional Belanda jika sedang tren Belanda.

Konsep inovasi bisnis

Perry mengungkapkan pebisnis jangan hanya fokus pada inovasi di produk saja. Celakanya, banyak orang yang berpikir inovasi itu lebih penting dilakukan pada produk. Padahal, dalam ilmu marketing, terdapat 4P yaitu Place, Product, Price, dan Promotion.

Bisa saja sebuah tempat wisata tidak sukses karena tempatnya yang kurang bagus sehingga perlu dilakukan inovasi. Atau bisa juga terkait dengan price-nya atau promotion-nya.

“Menjual melalui online itu penting. Tapi, yang lebih penting lagi adalah jualan melalui offline, namun produk yang kita ciptakan ramai diperbincangkan di dunia social media,” paparnya.

Menurut dia, inovasi dalam hal price atau harga, tidak melulu harus harga menjadi murah, melainkan cocok dengan kantong consumer, cocok dengan kantong target marketnya. Bagi Perry, cara jualan juga harus bisa sekreatif mungkin dengan promosinya yang juga unik. Ini yang harus terus dilakukan.

“Di Floating Market, saya menyasar orang kota. Makanya, saya jualan makanan tradisional dengan harga orang kota. Sementara, di Farm House saya menyasar masyarakat menengah ke bawah sehingga yang saya jual adalah makanan modern,” ungkap dia.

Tak hanya inovasi, seorang pebisnis juga harus paham ‘roh’ usaha yang dijalaninya. Jangan sampai, bisnis yang dilakukan tidak sesuai dengan jiwanya. Menurut dia, selain bisnis pariwisata ia juga memiliki bisnis lainnya. Ia tak fokus mengelola bisnis lainnya itu karena tidak memahami ‘roh’nya.

Sebagai pebisnis, Perry juga tidak lagi memperlakukan konsumen sebagai raja. Saat ini konsumen itu adalah teman. Tentunya, seorang teman butuh sentuhan dan sapaan dari teman lainnya.

“Berbisnis bisa sukses jika pengusaha mau melayani sendiri konsumen yang datang. Sehingga, jadilah enterpreneur bukan jadi investor,” ujarnya. (Adv)

Sumber : Website BCA Priroritas/Beritagar