Sorot

Tak Cuma Hunian, Meikarta Bisa Jadi Saluran Ekspresi Generasi Milenial

Kompas.com - 21/10/2017, 07:07 WIB

 
KOMPAS.com - Istilah generasi milenial banyak digunakan dalam percakapan atau berbagai postingan di media sosial saat ini.

Generasi milenial sendiri adalah orang yang lahir pada tahun 1980-an sampai 1995. Kebanyakan dari mereka sekarang telah bekerja dan memiliki penghasilan.
 
Penghasilan itu ada yang diperoleh dari profesi sebagai karyawan dan ada juga yang memiliki usaha sendiri alias wirausaha. Sebagian dari penghasilan itu tentunya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan sebagian lainnya ditabung.

Tabungan itu merupakan investasi yang salah satunya bertujuan supaya kelak bisa membeli barang yang bernilai tinggi, misalnya kendaraan dan properti seperti rumah atau apartemen.

Baca: Generasi Milenial Tak Malu Bicarakan Gaji
 
Menurut penelitian yang dilakukan salah satu situs jual beli online di Indonesia baru-baru ini, apartemen menjadi properti yang makin dikenal oleh berbagai anggota masyarakat di wilayah perkotaan. Hasil riset itu menunjukkan bahwa pada tahun 2017, pencarian apartemen meningkat sampai 20 persen dibandingkan tahun lalu.
 
“Lokasi apartemen yang paling banyak peminatnya terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek,” kata Chief Commercial Officer OLX Indonesia, Agung Iskandar, dalam paparannya, Kamis (19/10/2017) di kawasan SCBD, Jakarta.
 
Dia menambahkan, di wilayah itu, orang yang berminat terhadap apartemen didominasi oleh kelompok pekerja muda dan mahasiswa, yang masuk golongan generasi milenial tadi. Jumlahnya sekitar 70 persen yang tertarik untuk menyewa apartemen.
 
Beberapa alasan yang membuat mereka tertarik, Agung menambahkan, yang pertama yaitu harga yang terjangkau. Kedua, lokasi yang dekat dengan tempat bekerja, kuliah, dan aktivitas lainnya. Lalu, alasan ketiga yakni fasilitas keamanan yang lebih terjamin.
 
Respons Meikarta
 
Melihat kecenderungan itu, berbagai pengembang properti merespons dengan membangun proyek apartemen sesuai selera generasi milenial. Salah satunya, Lippo Group yang kini tengah membangun apartemen Meikarta di Cikarang, Jawa Barat.
 
“Generasi milenial itu dinamis. Mereka bisa melihat apa saja yang bisa dilakukan di suatu tempat. Jadi dari posisi dan konsep masa depan, Meikarta ini cocok untuk generasi milenial,” ujar Presiden Direktur Meikarta Ketut Budi Wijaya, Jumat (15/9/2017).

Ilustrasi generasi milenialThinkstockphotos Ilustrasi generasi milenial

Menurut dia, apartemen menjadi sasaran generasi milenial karena lokasinya yang berada di tengah kota dan relatif dekat dengan tempat kerja, kuliah atau sekolah.

Mereka cenderung tak ingin membuang waktu di perjalanan dan menginginkan gaya hidup praktis. Dengan tinggal di apartemen, hampir semua urusan yang berhubungan dengan hunian sudah dilakukan oleh pengelola gedung. Misalnya urusan kebersihan, air, listrik, perawatan gedung, perbaikan kerusakan, dan keamanan.
 
“Kami juga menyediakan berbagai fasilitas hiburan dan gaya hidup sesuai umur mereka. Misalnya ada bioskop Cinemaxx dan tempat nongkrong Maxxcoffee,” katanya.
 
Proyek Meikarta dirancang sebagai kota modern, kota yang bisa menjadi tempat tinggal segala umur, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Ilustrasi Sekolah di kota mandiri Meikarta, Cikarang Ilustrasi Sekolah di kota mandiri Meikarta, Cikarang

Meikarta menghadirkan kompleks hunian apartemen yang juga sesuai dengan keinginan generasi milenial. Mereka, ujar Ketut, bisa memilih unit apartemen dengan desain sesuai selera dan kemampuan.

Selain itu, tersedia juga sekolah dan perguruan tinggi dengan standar nasional dan internasional.

“Lokasi Meikarta yang dekat dengan kawasan industri Cikarang membuat pelajar dan mahasiswa bisa mempraktikkan ilmunya sesuai bidang masing-masing,” kata Ketut.
 
Dengan adanya beragam tempat makan dan hiburan, serta luasnya ruang terbuka hijau, semuanya memungkinkan generasi muda untuk tinggal dengan nyaman dan mengekspresikan dirinya.
 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau