Kilas

Festival Banjir Kanal Barat Semarang Kembali Digelar

Kompas.com - 14/05/2018, 12:29 WIB


KOMPAS.com - Pemerintah Kota Semarang kembali menggelar Festival Banjir Kanal Barat untuk keenam kalinya sejak diselenggarakan pertama kalinya pada 2013.

Festival berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat (11/5/2018) hingga Minggu (13/5/2018).

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada penyelenggaraan kali ini Pemerintah Kota Semarang tak lagi menerbangkan lampion, melainkan melarung lentera di sepanjang sungai Banjir Kanal Barat, Kota Semarang.

Tak kurang dari 3000 lentera dilarung dalam dua hari, yaitu 2000 lentera di hari pertama dan 1000 lentera di hari kedua.

Sebagai inisiator kegiatan, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, hadir langsung untuk membuka kegiatan tersebut, Jumat (11/5/2018).

Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi itu pun ikut melarung sebuah lentera di Sungai Banjir Kanal Barat.

Pawai perahu

Tak hanya lentera, kegiatan yang diselenggarakan pada malam hari ini juga disemarakkan dengan puluhan perahu hias.

Perahu-perahu itu tampak cantik memadati salah satu sungai terbesar di Kota Semarang tersebut. Tercatat ada 34 perahu hias ditampilkan dalam penyelenggaraan tahun ini.

Hendi menuturkan jika Festival Banjir Kanal Barat telah menjadi agenda wisata tahunan Kota Semarang sejak dirinya dilantik menjadi Wali Kota Semarang pada 2013.

"Kegiatan ini adalah salah satu upaya untuk mengembangkan potensi yang ada di Kota Semarang untuk menggenjot sektor pariwisata," katanya dalam siaran tertulis.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, membuka Festival Banjir Kanal Barat, Jumat (11/5/2018).Dok. Humas Pemkot Semarang Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, membuka Festival Banjir Kanal Barat, Jumat (11/5/2018).

Politisi PDI Perjuangan tersebut mengatakanpotensi Kota Semarang yang digali adalah kekayaan topografinya.

Kota Semarang merupakan salah satu kota terunik di Indonesia karena memiliki topografi yang lengkap, mulai dari pantai, dataran rendah, perbukitan, hingga waduk.

Kota Semarang memiliki sungai besar melintas di area perkotaan, yang mana ini menjadi sebuah potensi wisata besar bagi Kota Semarang.

"Tahun ini juga di Banjir Kanal Barat akan kita buat sebuah jembatan air mancur dengan lampu berwarna-warni untuk menambah daya tarik wisata di sini", yakinnya.

Ekonomi kerakyatan

Selain diramaikan oleh ribuah lentera dan puluhan perahu hias, Festival Banjir Kanal Barat tahun ini juga diramaikan oleh pagelaran wayang kulit dan bazar "Semarang Introduction Market."

Sekira 300 UMKM di Kota Semarang yang terbagi dalam 150 stand ambil bagian dalam bazar tersebut.

Mulai dari makanan khas Semarang hingga berbagai produk kerajinan disajikan kepada ribuan pengunjung yang memadati area Festival Banjir Kanal Barat di jalan Madukoro, Kota Semarang.

Sari Pandu, salah satu pelaku UMKM yang ikut dalam bazaar di Festival Banjir Kanal Barat itu mengaku senang diberi ruang oleh Pemerintah Kota Semarang untuk untuk ambil bagian.

"Senang karena semua dilibatkan, mulai dari teman-teman pelaku UMKM hingga pelaku seni yang mengisi panggung hiburan selama tiga hari di sini," kata Sari.

Ia berharap kegiatan serupa bisa diagendakan di masa mendatang. Dengan begitu, roda perekonomian bisa berputar di Kota Semarang.


Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau