Kilas

Lewat Acara ini, Sulut akan Mantapkan Gerakan Revolusi Mental

Kompas.com - 09/10/2018, 19:04 WIB


KOMPAS.com
- Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi diketahui bahwa pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental masih menemui berbagai permasalahan.

Menurut dia, masalah tersebut antara lain adalah pemahaman dan keterlibatan para pemangku kepentingan yang masih belum seperti diharapkan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Sulut Olly dalam sambutannya pada pencanangan Bulan Pemantapan Gerakan Nasional Revolusi Mental Tahun 2018 di Sulawesi Utara.

Acara ini berlangsung bersamaan dengan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Senin (1/10/2018).

Dalam rilis yang Kompas.com terima, Guberbur Olly pun menegaskan perlu dilakukan upaya percepatan pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental agar semua program terlaksana dengan baik.

"Untuk itu puncak dari "Bulan Pemantapan Gerakan Nasional Revolusi Mental" pada tanggal 26-28 Oktober 2018 akan dilaksanakan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Ke-2. Dalam acara ini Sulawesi Utara mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumah," kata dia. 

BACA JUGAKemenko PMK: Revolusi Mental adalah Aksi Nyata Bukan Sekedar Proyek

Kegiatan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Ke-2, di Sulawesi Utara akan dibuka oleh Presiden Jokowi dan akan dihadiri oleh 9 kementerian terkait, 34 gubernur dan 514 bupati/wali kota.

Sebagai peserta akan hadir sekitar 15.000 orang dari provinsi dan kabuapten/kota di Seluruh Indonesi.

Kegiatan yang akan berlangsung di Lapangan Koni Sario, Manado, Sulawesi Utara ini pun akan terdiri dari beberapa aktivitas. 

Di antaranya adalah Forum Dialog Keormasan dan Wawsan Kebangsaan, Pameran Inovasi Pelayanan Publik dan Kreatifitas Anak Bangsa, Pementasan Seni dan Budaya Kontemporer, Pemutaran Film dan Bedah Film RevMen dan Karnaval Budaya Indonesia. 

Pemprov Sulut dan Wagub Sulut  Steven Kandouw (dua dari kiri) memaparkan kesiapan Provinsi Sulut untuk melaksanakan kegiatan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Ke-2 di Sulawesi Utara, di Kantor Kemenko PMK dan Kemendagri, Selasa (9/10/2018).DOK Humas Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara Pemprov Sulut dan Wagub Sulut Steven Kandouw (dua dari kiri) memaparkan kesiapan Provinsi Sulut untuk melaksanakan kegiatan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Ke-2 di Sulawesi Utara, di Kantor Kemenko PMK dan Kemendagri, Selasa (9/10/2018).
Semua kegiatan tersebut sudah dipersiapkan matang oleh Pemprov Sulut. Wagub Sulut Steven Kandouw pun telah memaparkan kesiapan Provinsi Sulut untuk melaksanakan kegiatan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental Ke-2 di Sulawesi Utara di Kantor Kemenko PMK dan Kemendagri, Selasa (9/10/2018).

Sebagai informasi, revolusi mental merupakan gerakan nasional untuk mengubah sistem nilai, cara pandang, pola pikir, nilai, sikap bangsa Indonesia. Tujuannya supaya bisa mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan Pancasila.

BACA JUGARevolusi Mental di Balik Tanaman Sorgum

Gerakan Nasional ini meliputi berbagai program aksi nyata, yaitu Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Menginjak 3,5 tahun pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental di Indonesia, telah banyak perubahan yang terjadi.

Di antaranya antara lain semakin baiknya pelayanan publik, tingkat disiplin ASN dan masyarakat, kemandirian bangsa, kebersihan lingkungan serta semakin kokohnya NKRI di tengah terpaan berbagai ideologi dunia.

Meski begitu, Gubernur Sulut Olly menilai masih ada beberapa kendala dalam pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental. 

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau