Kilas

Wali Kota Semarang Berharap Masyarakat Lakukan Pelaporan dengan Bijak

Kompas.com - 10/10/2018, 19:44 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memaparkan keprihatinannya terhadap sejumlah masyarakat yang melakukan aduan palsu tentang kondisi lingkungannya kepada Pemerintah Kota Semarang.

Wali kota yang akrab disapa Hendi itu mengungkapkan bahwa dari rata-rata 600 aduan yang masuk ke call center 112, hanya 30 persen yang benar-benar valid dan bisa ditindaklanjuti penanganannya. Jumlah itu, menurut Hendi, belum termasuk aduan palsu melalui media sosial dan sistem Lapor Hendi.

"Misalnya kemarin ada laporan di sebuah wilayah kalau aliran air PDAM di sana mati. Tapi, setelah dicek ternyata aliran airnya lancar dan nama yang disebutkan pelapor ternyata tidak terdata sebagai warga di situ," terang Hendi pada kegiatan focus group discussion Goesmart 2018 di Situation Room Pemerintah Kota Semarang, Selasa (9/10/2018).

Politisi PDI Perjuangan juga menuturkan jika aduan palsu tersebut cukup menyita waktu dan tenaga. Pasalnya, dari seluruh laporan yang masuk Hendi mengaku tetap mewajibkan seluruh stafnya untuk melakukan verifikasi sekalipun laporannya tidak lengkap.

Untuk itu, selain mengedukasi masyarakat dalam melakukan pelaporan, Hendi juga berharap sistem dan aplikasi pelaporan masyarakat yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Semarang untuk ditingkatkan.

"Saya rasa tantangan ini juga dihadapi di Singapura sehingga dalam FGD kala ini kami berharap dapat belajar dari apa yang telah berjalan di sana. Ini untuk dapat meningkatkan sistem kami agar menjadi lebih valid," kata Hendi.

"Selain itu tentu saya juga berterima kasih kepada Prof Suhono yang selama ini sudah membantu mengembangkan Semarang Smart City," tambahnya.

Adapun kegiatan diskusi Goesmart 2018 tersebut merupakan rangkaian kegiatan Forum International Kota Cerdas yang dilaksanakan di Kota Semarang, 9-12 Oktober 2018. Kegiatan tersebut akan diikuti oleh Jejaring Smart City dari Singapura, Australisa, Inggris, dan Singapura.

Hadir pada FGD tersebut adalah Prof Suhono sebagai Ketua Forum Prakarsa Indonesia Cerdas dan Kok-Chin Tay, Ketua Jaringan Kota Cerdas di Singapura.

Kok-Chin Tay sendiri mengungkapkan bahwa Kota Semarang memiliki potensi besar dalam pengembangan kota cerdas, terutama karena banyaknya perguruan tinggi di kota itu.

"Kekuatan yang dimiliki oleh kota ini adalah banyak sekali universitas yang bisa diajak kolaborasi," ujar Chin Tay.

Sementara itu, Prof Suhono mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Semarang dalam merancang konsep Semarang Smart City hingga menjadi kota yang masuk 3 besar terbaik dalam mewujudkan smart city pada 2017 lalu.

"Saya rasa upayanya sudah baik hingga setidaknya bisa masuk tiga besar dalam peringkat kota cerdas di Indonesia pada 2017 lalu," ujarnya.

Baca juga: Suhu Semarang Naik, Walikota Hendi Pasang Kipas Kabut di Jalan

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau