kabar mpr

Pentas Wayang Di Muara Enim Untuk Sosialisasi Empat Pilar

Kompas.com - 18/11/2018, 18:53 WIB

Masyararakat Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, 17 September 2018, mendapat hiburan yang tak biasanya. Pada malam Minggu, di Lapangan Air Paku digelar pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan kesenian khas Jawa itu dipertontonkan kepada masyarakat untuk mensosialisasikan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NRKI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai acara yang di-empunya oleh MPR, hadir dalam kegiatan yang ditunggutunggu masyarakat itu anggota MPR dari Fraksi Partai Gerindra Edhy Prabowo, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR Muhamad Jaya, serta Kepala Kesbangpol Muara Enim Andi Wijaya dan Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan Kartika Sandra Desi.

Dalam sambutan, Edhy Prabowo mengakui wayang kulit bukan kesenian dari Muara Enim meski demikian hal itu tak menjadi masalah untuk menghibur dan mensosialisasikan Empat Pilar kepada masyarakat di sana. “Warga di sini juga banyak kok yang menyukai wayang kulit”, ungkapnya. Di Sumatera Selatan, menurut pria asli Muara Enim itu, kesenian khas Jawa tak hanya wayang kulit yang dgemari. Dikatakan Reog Ponorogo pun berkembang di sana. “Saya telah bertemu dengan banyak Paguyuban Reog Ponorogo di Sumatera Selatan”, ungkapnya.

Paling penting bagi Edhy Prabowo adalah menjalin silaturahmi dengan masyarakat lewat Sosialisasi Empat Pilar. “Sosialisasi Empat Pilar rutin digelar oleh MPR”, tuturnya. Menurutnya, sosialisasi nilai-nilai luhur bangsa perlu disegarkan kembali kepada masyarakat sebab banyak tantangan dan ancaman yang menghadang bangsa Indonesia. Dirinya menegaskan, Empat Pilar tak hanya perlu diingat namun juga harus diimplementasikan dalam keseharian.

Sebelumnya, Muhamad Jaya dalam sambutan mengatakan sosialisasi dengan metode pertunjukan wayang kulit menunjukan MPR mencintai kebudayaan yang ada. Dikatakan kesenian dan kebudayaan yang ada tak hanya sekadar sebagai hiburan namun juga mempunyai nilai-nilai persatuan. Penggunaan wayang kulit untuk mensosialisasikan Empat Pilar sebab diakui kesenian ini yang paling dekat dengan masyarakat.

Selepas pemaparan Empat Pilar dan sebelum pertunjukan dimulai, Edhy Prabowo menyerahkan sosok lakon wayang kepada dalang Ki Purwoko Purwo Pandoyo. Dalang dari Lubuk Linggau. “Penyerahan sosok lakon ini sebagai tanda pagelaran dimulai," ujarnya. Prosesi itu disambut meriah para penonton dengan tepuk tangan.

Pada malam itu pertunjukan dengan lakon ‘Sekar Mbangun Jiwo’. Lakon ini menceritakan perebutan kekuasaan di Kerajaan Astina antara Pandawa dan Kurawa. Perebutan ini bahkan melibatkan sosok-sosok besar seperti Semar dan Brahmana. Berkat nasehat dan pitutur Semar, akhirnya kelompok yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, yakni Pandawa, kemenangan itu diraihnya.  

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau