Kilas

Lawan Tengkulak, Ganjar dan Buwas Luncurkan Operasi Pasar Gaya baru

Kompas.com - 22/11/2018, 15:54 WIB

KOMPAS.com – Guna mengatasi sering tidak efektifnya operasi pasar biasa, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Direktur Utama Bulog Budi Waseso meluncurkan operasi pasar gaya baru.

Ganjar menyebut operasi pasar gaya baru karena Pemerintah provinsi (Pemprov) Jateng langsung bekerja sama dengan kepala desa. Komoditas yang disalurkan dalam operasi pasar ini adalah beras kualitas medium dengan harga murah. 

Bulog akan langsung mendistribusikan beras tersebut ke kios, warung, koperasi, atau badan usaha milik desa (Bumdes), sehingga tidak lagi dikirim ke pasar. 

Terkait distribusi beras, selain Bulog, Kepala desa ditunjuk menjadi penanggungjawab distribusi beras. 

Dalam pelaksanaannya, operasi pasar menggandeng juga Polda Jateng. Bersama Pemprov Jateng dan Bulog Jateng, kepolisian akan mengawasi pengiriman dan penjualan beras ke masyarakat.

Ganjar pun berharap peluncuran ini bisa menjadi solusi terhadap ketidakefektifan operasi pasar pada umumya.

"Selama ini operasi pasar biasa seringkali tidak efektif karena beras langsung dibeli tengkulak sehingga masyarakat sasaran tidak menikmati," kata Ganjar dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima.

Peluncuran beras murah ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemprov Jateng dan Perum Bulog pada Kamis (22/11/2018) di Gedung Gradhika, Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang. 

Dengan konsep ini, harga beras bisa ditekan. Di pasar, harga beras kualitas medium bisa mencapai Rp 10.000, bahkan Rp 11.000 per liter.

Melalui cara baru ini, Bulog menetapkan harga antara Rp 8.500 sampai maksimal Rp 9.000 per liter. Dengan demikian, Jateng pun menjadi pionir distribusi beras murah untuk rakyat.

“Kalau Jateng berhasil akan dilanjutkan ke seluruh Nusantara. Saya minta seminggu ini kita geber lalu evaluasi sehingga didapatkan pola yang semakin bagus,” ucap Ganjar. 

Sumber beras yang didistribusikan menggunakan cadangan beras pemerintah. Direktur Utama Bulog Budi Waseso menyebut, cadangan beras saat ini mencapai 1,2 juta ton. Ia menargetkan 700 ribu ton bisa diserap di Jateng.

“Setidaknya lima ribu ton perhari bisa langsung kami drop ke desa-desa,” tegas Buwas, sapaan akrab Dirut Bulog.

Pemilihan Jateng ini menurut Buwas karena provinsi yang dipimpin Ganjar telah menjadi daerah percontohan terkait keberhasilannya dalam pengendalian pangan nasional.

Terbukti, untuk kali ketiga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendapatkan penghargaan Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terbaik secara berturut-turut dari tahun 2015 sampai dengan 2017.

“Maka saya tetapkan pilot project di Jateng. Saya yakin berhasil dan pasti akan menyebar ke lain daerah," kata Buwas. 

Pada acara peluncuran tersebut turut hadir 700 kepala desa di Jateng. Salah satunya Kades Bener Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang, Saifudin.

Menurutnya, operasi beras ini bakal mengeliminasi pedagang-pedagang nakal yang dia sebut sebagai 'pemain'.

"Nanti saya akan menggerakkan RT dan RW. Operasi pasar nantinya bisa menggunakan dengan pembagian kupon bazar," katanya.

Di wilayahnya Saifuddin mennyampaikan terdapat sekitar 2.000 kepala keluarga dari berbagai kalangan. Untuk operasi pasar ini, dia mengaku tidak membatasi dan mempersilakan siapapun bisa menjangkau.

"Untuk tahap awal nanti sepertinya saya akan minta sekitar 3 ton. Kemungkinan bisa bertambah di tahap selanjutnya,” tegasnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau