Advertorial

Pupuk Kaltim Raih Predikat Tertinggi Penghargaan Subroto 2019

Kompas.com - 01/10/2019, 16:16 WIB

Pupuk Kaltim sebagai Anak Usaha Pupuk Indonesia kembali raih predikat tertinggi Penghargaan Subroto 2019 bidang efisiensi energi, dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM). Penghargaan diterima Direktur Produksi Pupuk Kaltim Bagya Sugihartana, dari Menteri ESDM RI Ignasius Jonan, didampingi Wakil Menteri Arcandra Tahar, pada puncak peringatan Hari Pertambangan dan Energi ke-74 di Jakarta pada 27 September 2019.

Penghargaan ini merupakan ketiga kalinya diraih Pupuk Kaltim secara berturut sejak 2017, atas komitmen Perusahaan melakukan penghematan energi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, yang mewajibkan pengguna energi besar setara 6.000 Tonne of Oil Equivalent (TOE) menerapkan manajemen energi yang ramah lingkungan. “Penghargaan ini senantiasa mendorong semangat Pupuk Kaltim untuk terus melakukan inovasi di bidang efisiensi energi secara berkelanjutan, khususnya pada proses produksi dan operasional Perusahaan,” ujar Bagya Sugihartana.

- -

Dijelaskannya, tahun ini Pupuk Kaltim menggagas inovasi Pompa Slurry GAE-DW840 tanpa menggunakan Impeller, Seal, Motor dan Diaphragm (NO ISOMODI), untuk mendukung penghematan energi dan bahan baku di Pabrik NPK Fusion. Hal ini didasari kerugian (losses) Perusahaan, karena jumlah produksi yang jauh lebih kecil dibanding bahan baku dengan rata-rata 6,01% per bulan. Tak hanya berdampak pada Harga Pokok Produksi (HPP) yang tinggi dan boros energi, losses juga berpengaruh terhadap penurunan produksi hingga potensi pencemaran lingkungan. Apalagi penyebab losses tertinggi berasal dari bak scrubber yang mencapai 45.54% atau setara 443 ton per bulan. Losses pada bak scubber merupakan hasil dari dedusting system berupa slurry (lumpur) yang masih mengandung nutrient pupuk.

Melalui inovasi pompa slurry GAE-DW840, bahan baku di Pabrik NPK Fusion kembali melalui pengolahan dari bak scrubber ke unit granulator, menggunakan energi udara (pneumatic) dan katup bersifat soft-seated. Hasilnya mampu menurunkan losses dari 6,01% menjadi 2,98% dan recovery bahan baku hingga 82,08% atau setara 363 ton per bulan. “Inovasi ini juga meningkatkan efisiensi energi pada proses produksi NPK Fusion, dengan tambahan revenue penjualan produk hasil recovery bahan baku senilai Rp114 Miliar,” terang Bagya.

Begitu juga untuk manajemen energi bersih (clean energy), Pupuk Kaltim mampu melakukan penghematan sebesar USD3.921.855 dari investasi, untuk mengimplementasikan sistem manajemen energi senilai USD91.830, dengan jumlah energy saving sebesar 866.262 Giga Joule (GJ), serta penurunan emisi gas rumah kaca mencapai 43.565 metrik ton per tahun. Keberhasilan tersebut diapresiasi dunia internasional melalui penghargaan Clean Energy Ministerial (CEM) Award of Excellence in Energy Management 2019, di Vancouver Canada pada Mei 2019. “Seluruh prestasi itu tidak terlepas dari komitmen Manajemen dan seluruh karyawan Pupuk Kaltim, dengan terus mendorong efisiensi energi di seluruh unit kerja Perusahaan secara berkesinambungan,” pungkas Bagya.

Menteri ESDM Ignasius Jonan, berharap peringatan Hari Pertambangan dan Energi dapat mendorong seluruh pihak memberikan kontribusi terbaik dalam pemanfaatan energi berkeadilan, sebagai pijakan dasar pengelolaan sektor ESDM menuju Indonesia yang lebih unggul. Dirinya mengapresiasi para penerima penghargaan di seluruh kategori, yang dinilai berkontribusi terhadap ketersediaan energi dengan memaksimalkan pengembangan new and renewable energy yang ramah lingkungan. “Saya ucapkan selamat kepada para penerima penghargaan. Prestasi dan sumbangsih saudara sekalian punya makna besar bagi kemajuan bangsa,” ucap Jonan. (*/vo/nav)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau