Advertorial

Tingkatkan Literasi Digital, Kominfo Gelar Webinar “Ruang Digital, Bebas, dan Bertanggung Jawab”

Kompas.com - 20/06/2021, 19:33 WIB

KOMPAS.com - Bagi sebagian besar orang, literasi digital kerap dianggap sebagai kemampuan untuk mengoperasikan suatu teknologi pada kehidupan sehari-hari. 

Namun, pemahaman tersebut kurang tepat. Sebab, selain kemahiran dalam menjelajahi internet, para pengguna teknologi juga dituntut untuk bisa bertanggung jawab ketika menggunakannya.

Guna mendukung terwujudnya literasi digital, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) meluncurkan program Literasi Digital Nasional. Adapun program ini merupakan hasil kerja sama antara Kemenkominfo dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital.

Melalui program tersebut, Kominfo meluncurkan Seri Modul Literasi Digital yang berfokus pada empat tema besar, yakni Cakap Bermedia Digital, Budaya Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Aman Bermedia Digital.

Dengan seri modul tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia dapat mengikuti perkembangan dunia digital secara baik, produktif, dan sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, serta bernegara.

Dalam rangka memberikan sosialisasi dan pendalaman secara menyeluruh, Kominfo membagi modul tersebut menjadi rangkaian seri webinar bertajuk “Indonesia #MakinCakapDigital”. Webinar ini menjangkau sebanyak 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Khusus 14 kabupaten/kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten, Kominfo menggelar webinar bertajuk “Ruang Digital, Bebas, dan Bertanggung Jawab”, Kamis (17/6/2021).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga setengah jam tersebut menghadirkan perwakilan Indonesian Association for Public Administration (IAPA) Khuriyatul Husna, Dosen Universitas Sebelas Maret Reza Sukma Nugraha, art enthusiast sekaligus aktor Mathori Brilyan, dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute Septa Dinata sebagai narasumber.

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Pada sesi pertama, Mathori Brilyan membuka webinar dengan topik digital skills.

Menurutnya, ruang digital penuh dengan data kunci yang berisi informasi pribadi. Artinya, setiap langkah, mulai dari riwayat perjalanan, identitas diri, hingga kedewasaan perilaku akan terekam jelas di ruang digital.

Big data merekam perjalanan, pencarian, bahkan perasaan pada proses kedewasaan kita sehingga mudah untuk mengetahui status, profesi, penghasilan, kegemaran seni, olahraga, musik, tokoh ataupun artis idola,” katanya.

Dengan banyaknya data yang terekam, Mathori mengingatkan agar pengguna harus tetap menggunakan ranah digital secara bertanggung jawab. Namun, tetap terbuka dalam hal apa pun.

Terkait kecakapan menggunakan media digital, Reza Sukma Nugraha dalam pemaparannya menyebut, selain harus memahami penggunaan perangkat teknologi, pengguna juga harus memahami aturan budaya digital. 

Ia juga mengingatkan akan pentingnya bertanggung jawab dalam bermedia digital.

“Pengguna media harus memahami pula mengenai budaya digital, yaitu bagaimana berperilaku, menciptakan kebiasaan, menyepakati suatu aturan, dan menciptakan aturan ketika berinteraksi di ruang digital,” ujar Reza.

Sementara itu, menurut Septa Dinata, teknologi digital dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan sisi kemanusiaan. Adanya teknologi ini secara tidak langsung membantu setiap individu untuk bisa terhubung tanpa batasan waktu dan tempat.

“Kehadiran media digital memungkinkan manusia berkomunikasi secara langsung tanpa batasan waktu dan tempat, berinteraksi, dan menerima informasi,” ungkap Septa.

Meski begitu, lanjut Septa, penggunaan media digital tetap tidak bebas dari risiko human error

Guna mencegah hal tersebut, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak membocorkan informasi pribadi, membuat password yang kuat di setiap akun media sosial, berhati-hati dalam mengunggah dan berinteraksi di media sosial, serta cermat saat belanja online.

Mengingat adanya risiko jejak digital yang terekam di berbagai media digital, Khuriyatul Husna mengingatkan akan pentingnya etika digital. Dengan begitu, jejak digital yang ditinggalkan oleh pengguna media digital dapat bernilai baik ketika ditelusuri di masa depan.

“Etika digital seringkali disebut network etiquette (netiquette), yaitu tata krama atau aturan dalam menggunakan internet. Agar meninggalkan jejak digital yang baik, pengguna media digital membutuhkan kesadaran, kebajikan, integritas atau kejujuran, dan harus bertanggung jawab saat menggunakan internet,” kata Husna.

Dalam sesi tanya jawab, peserta webinar sempat menanyakan tentang cara menyaring berita hoaks, serta bagaimana etika menyelesaikan masalah melalui permintaan maaf di media sosial. 

Menurut Husna, cara pertama untuk mencegah terpapar informasi hoaks adalah dengan mencari informasi terkait kabar yang didapatkan.

“Biasakan untuk berpikir kritis terhadap informasi. Analisis terlebih dahulu, untuk apa informasi tersebut? Cek lagi dari sumber yang terpercaya supaya jangan sampai menyebar kembali berita hoaks,” ujar Husna.

Sementara itu, terkait dengan permintaan maaf, Husna menambahkan bahwa akan lebih baik jika segala sesuatu yang dilakukan dipikirkan dengan matang terlebih dahulu. Pasalnya, perilaku di dunia digital juga akan menentukan nasib sang pengirim pesan.

“Ingat bahwa apa yang kita lakukan di dunia digital adalah apa yang kita pikirkan. Oleh karena itu, ciptakan suasana kondusif di dalamnya. Selalu ingat bahwa perilaku di dunia digital menentukan nasib kita dan orang lain,“ lanjutnya.

Sebagai informasi, seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital. Rangkaian webinar akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema.

Bagi peserta yang mendaftarkan diri dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai, Kemenkominfo akan memberikan e-certificate sebagai bukti keikutsertaan. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau