Advertorial

Mengenal Kartini Masa Kini, Ini Kisah Dua Perempuan yang Menjemput Rezeki lewat Warung Kelontong

Kompas.com - 22/04/2022, 21:15 WIB

KOMPAS.com - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggelar peringatan Hari Kartini dengan tema “Wonderful Magnificent 2022 – WOMAN 2022” di Sentul International Convention Center, Sentul, Jawa Barat, Kamis (21/4/2022).

Salah satu agenda dalam acara tersebut adalah talkshow yang menghadirkan dua wanita sebagai representasi “Kartini Masa Kini”.

Keduanya adalah Yuliana dan Nyai. Dalam kesempatan itu, keduanya menceritakan pengalaman sebagai nasabah inspiratif PNM Mekaar kepada 6.000 hadirin bersama Menteri BUMN Erick Thohir dan Brand Ambassador BRI Cinta Laura Kiehl.

Nyai adalah seorang tuna daksa. Keterbatasan ini tak menghalangi ia untuk menjadi orang sukses.

Dengan mengenyampingkan keterbatasan tersebutm, Nyai membangun bisnis dengan modal dari PNM Mekaar. Bisnis yang dipilihnya adalah warung rumahan.

“Dulu di awal pencairan (modal), warung yang saya kelola belum selengkap ini (sekarang). Namun, dengan bertambahnya modal yang diberikan PNM Mekaar dan segala kemudahan yang disediakan, saya bisa mengembangkan usaha saya menjadi lebih besar lagi,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (22/4/2022).

Ia menjelaskan bahwa tambahan modal dipakainya untuk menambah belanjaan warung kelontong lebih banyak lagi. Bakan, dari tambahan modal tersebut, ia mampu menambah fasilitas yang menunjang bisnisnya

“Warung yang semula hanya menjual gorengan di depan rumah, kini dapat berkembang menjadi warung kelontong yang menyediakan barang kebutuhan sehari-hari” ucap Nyai.

Selain mengisi kesibukan dengan mengelola usaha warung kelontong, Nyai punya hobi memasak. Ia juga biasa membantu keluarga ketika menyiapkan acara besar seperti Idul Fitri dan momen penting lainnya.

“Keterbatasan yang saya miliki sama sekali tidak menyurutkan semangat saya untuk terus berusaha, berkembang, dan terus menginspirasi banyak orang. Bagi saya, tidak ada alasan keterbatasan. Selama saya punya semangat yang besar, tekat yang kuat, dan juga kemauan, hasilnya akan luar biasa,” lanjutnya.

Satu perempuan yang juga hadir adalah Yuliana, seorang single mother dari tiga orang anak.

Sama seperti Nyai, Yuliana membangun warung melalui modal dari PNM Mekaar. Seiring berkembangnya warung yang ia bangun dari nol, ia pun mampu membuka usaha laundry pakaian.

“Alhamdulillah, saya diberikan kemudahan dan kecukupan dari Allah SWT lewat bantuan PNM Mekaar. Dengan rezeki yang luar biasa ini, saya merasa harus bisa juga menyebarkan kebaikan ini ke orang orang sekitar,”ujarnya.

Lantas, ia saya mengangkat dua anak asuh di kampungnya. Kedua anak asuh tersebut, ia ajak bekerja di tempat usaha miliknya.

“Usaha saya itu, warung kelontong dan laundry,” ucap Ibu Yuliana.

Tak berhenti sampai di situ, Yuliana bahkan sudah punya rencana untuk memberikan modal kepadapengemis yang sering datang ke wilayah kampungnya.

“Namanya Bapak Satria. Saya ingin sekali membelikan sepeda dan minuman sachet agar dia dapat pemasukan dengan menjual minuman sachet itu. Saya percaya, kebaikan tidak akan pernah hilang dan akan selalu ada harapan untuk orang orang yang mau berusaha dan bekerja,” lanjutnya.

Sebagai informasi, hingga 21 April 2022, PNM telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 123,9 triliun kepada 11,6 juta nasabah.

Saat ini, PNM memiliki 3.673 kantor layanan di seluruh Indonesia yang melayani usaha mikro kecil (UMK) di 34 provinsi, 443 kabupaten/kota, dan 5.006 kecamatan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau