Advertorial

Terinspirasi dari Sebuah Desa, Wanita Asal Papua Ini Buka Lapangan Kerja dan Lestarikan Budaya Lokal

Kompas.com - 15/12/2023, 13:45 WIB

KOMPAS.com – Indonesia merupakan bangsa majemuk yang memiliki keberagaman suku bangsa, ras, etnis, agama, dan bahasa. Kemajemukan ini menjadi kekayaan bagi segenap bangsa Indonesia.

Bicara tentang keberagaman, Papua Barat Daya merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beraneka suku dan budaya. Provinsi yang terletak di timur Indonesia ini juga dianugerahi kekayaan alam yang sangat eksotis.

Keragaman budaya dan kekayaan alam tersebut pun menjadi peluang bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan taraf hidup dan sekaligus menjadi medium untuk mempromosikan ciri khas otentik yang dimiliki setiap suku di Pulau Papua.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan warga lokal adalah dengan mendirikan tempat wisata, seperti Rumah Etnik Papua yang diinisiasi oleh Mitshi Wanma (Mama Mitshi).

Keputusannya mendirikan ikon wisata edukatif di pusat Kota Sorong terinspirasi dari perjalanannya ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Ketika mengunjungi Kampung Kurulu, banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung memotret sekitar.

“Lalu, saya melihat penduduk setempat yang masih berpakaian khas, seperti koteka, diajak berfoto oleh wisatawan, kemudian mereka diberi sejumlah uang. Saya pun tersadar, hal ini belum ada di Sorong. Jadilah, saya terinspirasi untuk menghadirkan budaya lokal di pusat kota lewat Rumah Etnik Papua,” jelas Mama Mitshi.

Bertujuan untuk melestarikan budaya lokal, Rumah Etnik Papua menyajikan sejumlah rumah adat Papua, seperti Rumah Honai dari suku Wamena, Rumah Kaki Seribu dari suku Arfak, Rumah Adat Rumsram dari suku Biak, dan Rumah Pohon dari suku Korowai.

Selain itu, ada juga tarian khas, seni lukis, seni ukir, kuliner tradisional, serta aksesori otentik Papua, seperti pakaian adat, noken, dan kalung yang diperkenalkan oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tersebut.

Dalam pengembangan usahanya, Mama Mitshi mendapatkan banyak bantuan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yakni bantuan modal lewat pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pendampingan usaha lewat mentoring terkait pemasaran dan manajemen keuangan.

“Setiap kali ada event seperti pameran, kami selalu diikutsertakan. Jadi, nama usaha kami bisa makin dikenal. Seperti kemarin, kami bisa bertemu Menteri Investasi, Pak Bahlil (Lahadalia). Saya sangat bersyukur karena BRI sudah mengundang kami untuk turut andil dalam acara itu,” tutur Mama Mitshi.

Strategi pengembangan Rumah Etnik Papua

Untuk mengembangkan usaha agar dikenal lebih luas, dibutuhkan upaya strategis seperti pengoptimalan digital marketing.

Mama Mitshi mengaku tidak memiliki kompetensi di bidang marketing. Karena itu, ia merasa kewalahan dalam memasarkan Rumah Etnik Papua. Untungnya, BRI melalui para mantri senantiasa memberikan bimbingan terkait pemanfaatan jejaring sosial.

“Sebagai garda terdepan dari BRI, hal itu sudah menjadi tanggung jawab kami untuk membantu UMKM binaan BRI mengembangkan usahanya,” ujar Mantri BRI Yuspan yang memberi pendampingan untuk Mama Mitshi dan seluruh karyawan Rumah Etnik Papua.

Masih banyak hal menarik yang bisa ditemukan dari perjalanan Mama Mitshi dan usaha Rumah Etnik Papua, selain membuka lapangan kerja untuk warga sekitar dan memperkenalkan keistimewaan Pulau Papua.

Simak cerita lengkapnya di Petualangan BRILiaN The Series 3 Episode 6: “Meramu Keindahan Timur Indonesia” di kanal YouTube Kompas TV.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau