Advertorial

Mengenal Puubunga, Desa BRILiaN yang Jeli Kembangkan Potensi Pertanian Organik dan Manfaatkan AgenBRILink

Kompas.com - 05/03/2024, 17:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Jeli melihat potensi yang dimiliki menjadi kunci Desa Puubunga, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, dalam mengembangkan perekonomian masyarakat.

Kepala Desa Puubunga Sutaji bercerita, desanya memiliki potensi di sektor persawahan dan perkebunan. Namun, potensi ini belum terlalu digali oleh masyarakat.

Kebanyakan masyarakat yang memiliki lahan persawahan dan perkebunan hanya memanfaatkan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Selain itu, komoditas yang ditanam masih terbatas. Sistem pertaniannya juga masih konvensional.

Kondisi tersebut perlahan berubah. Sutaji mengatakan, pada 2021, sekelompok masyarakat, termasuk dirinya, mencoba berinovasi dengan menerapkan pertanian organik. Kala itu, ia dan sekitar 18 orang warga mencoba mengembangkan komoditas padi organik.

Meski awalnya cukup sulit dan mendapat sambutan yang kurang baik dari masyarakat, Sutaji dan beberapa warga tetap menanam padi organik tersebut. Upaya yang dilakukan itu pun perlahan mulai membuahkan hasil.

“Setelah beberapa bulan, saya lihat pertumbuhan padi organik ini berbeda dengan padi konvensional. Dari satu bibit yang ditanam bisa (tumbuh) menjadi 40 batang. Kalau sedang subur, bisa sampai 60 batang,” kata Sutaji kepada Kompas.com, Jumat (2/2/2024).

Keberhasilan itu mulai menarik minat warga lain untuk turut menanam komoditas padi organik. Apalagi, komoditas padi organik memiliki nilai jual yang relatif lebih tinggi ketimbang padi biasa.

Sutaji kemudian menyarankan warga untuk mencoba dari luas tanam yang kecil karena sistem padi organik berbeda dengan padi konvensional. Salah satunya adalah tahap persiapan lahan sebelum penanaman padi organik yang lebih panjang.

“Misalnya, dimulai dari 10 are dulu untuk konsumsi sendiri. Jika sudah berhasil, baru ditambah lagi luas lahannya,” ujarnya.

Kini, kata Sutaji, ada sekitar 7 hektare (ha) sawah yang khusus ditanami komoditas padi organik di Desa Puubunga. Produk beras organik yang dihasilkan juga telah mendapat sertifikasi pangan organik dari beberapa lembaga resmi.

Inovasi yang dilakukan Desa Puubunga tersebut berhasil membawa desa dan perekonomian lebih maju dan berkembang.

“Dahulu, sekitar 10-12 tahun yang lalu, desa kami termasuk salah satu yang tertinggal. Namun, karena inovasi yang dilakukan, kini desa kami juga maju dan menjadi desa berdaya,” ucap Sutaji.

Produk beras organik hasil produksi masyarakat Desa Puubunga, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. (dok. BRI)

Tak hanya itu, inovasi tersebut juga mengantarkan Desa Puubunga meraih penghargaan sebagai Desa Potensial Wilayah Timur pada ajang Nugraha Karya Desa BRILiaN 2023 yang diselenggarakan oleh BRI.

Sebagai informasi, Desa BRILiaN merupakan program pemberdayaan desa yang bertujuan menghasilkan role model dalam pengembangan desa. Upaya ini dilakukan melalui implementasi praktik kepemimpinan desa yang unggul serta semangat kolaborasi guna mengoptimalkan potensi desa berbasis Sustainable Development Goal (SDGs).

Dukungan BUMDes dan BRI

Keberhasilan Desa Puubunga dalam mengembangkan pertanian organik tidak terlepas dari peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekarsari. Sutaji menjelaskan, saat ini, BUMDes Mekarsari menyediakan layanan simpan pinjam bagi petani, baik perorangan maupun kelompok.

“Petani yang akan mengolah sawah bisa mengajukan pinjaman modal ke BUMDes. Misalnya, pinjaman untuk membeli pupuk, membeli bibit, dan lainnya,” tuturnya.

Peran BUMDes itu, kata Sutaji, dapat mencegah petani dan masyarakat meminjam modal usaha dari rentenir.

Ke depan, Sutaji mengatakan, pihaknya berencana mengembangkan unit usaha yang dijalankan BUMDes Mekarsari. Contohnya, mengembangkan unit usaha alat pertanian dan pemasaran berbagai produk pertanian dari Desa Puubunga.

Dengan begitu, semakin banyak masyarakat di Desa Puubunga bisa terserap dan diberdayakan dengan menjadi tenaga kerja di BUMDes Mekarsari.

Selain BUMDes, perekonomian warga Desa Puubunga juga terbantu oleh produk-produk perbankan dari BRI. Salah satunya adalah produk Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Sutaji mengatakan, masyarakat Desa Puubunga yang memiliki usaha pertanian dapat dengan mudah mengakses produk KUR BRI.

“Masyarakat tidak dipersulit dalam mengajukan pinjaman, baik soal jaminan pinjaman maupun pembayaran cicilan,” ucap Sutaji.

Selanjutnya, layanan AgenBRILink. Sutaji mengatakan, kehadiran AgenBRILink di Desa Puubungan telah mempermudah masyarakat dalam bertransaksi. Dengan AgenBRILink, masyarakat tidak perlu jauh-jauh bepergian ke kota untuk menikmati layanan perbankan.

“Termasuk dalam pembayaran KUR. Masyarakat bisa langsung melakukan setoran pinjaman di AgenBRILink,” ujarnya.

Tak hanya memudahkan masyarakat, layanan AgenBRILink juga membantu masyarakat yang menjadi agen dalam mengembangkan perekonomiannya. Sutaji mengatakan, kebanyakan warga yang menjadi AgenBRILink merupakan pemilik toko atau warung di Desa Puubunga.

“Salah satu AgenBRILink di sini merupakan janda yang suaminya wafat saat pandemi Covid-19. Suaminya wafat dan meninggalkan usaha toko. Dengan menjadi AgenBRILink, sang istri tetap bisa melanjutkan usaha suaminya tersebut. Bahkan, sekarang semakin berkembang,” paparnya.

Sebagai informasi, masyarakat desa mana pun di Indonesia juga bisa mengikuti jejak desa-desa yang menjadi peserta Program Desa BRILiaN. Raih kesempatan jadi Desa BRILiaN tahun berikutnya dengan mengunjungi atau menghubungi Kantor BRI Unit dan Mantri BRI Unit terdekat yang akan membantu pendaftaran.

Yuk, jadikan desamu sebagai Desa BRILiaN berikutnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau