Advertorial

Kolaborasi Stakeholder Durian, Pj Gubernur Bahtiar Sepakati Rantai Bisnis di Sulawesi Barat

Kompas.com - 19/09/2024, 14:21 WIB

KOMPAS.com - Menanam durian montong kini menjadi salah satu hobi petani di Sulawesi Barat, bagi lebih dari 100 warga Kecamatan Bulo, Kabupaten Polman, dan kabupaten lainnya.

Dengan tanah yang subur, daerah ini menjadi salah satu penghasil durian terbesar di Indonesia. Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Bahtiar Baharuddin mengumpulkan para pemangku kepentingan durian di Sulbar untuk bersilaturahmi bersama stakeholder durian.

Acara berlangsung di halaman rumah jabatan (rujab) Gubernur Sulbar, Rabu malam (18/9/2024).

Pertemuan tersebut sekaligus menindaklanjuti hasil diskusi Pj Bahtiar dengan petani saat berkunjung ke Salubaran pekan lalu.

Pertemuan dihadiri oleh sejumlah petani, termasuk Ketua Kelompok Tani Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S), Petani Peternak Muda Keren (PPMK) Kabupaten Mamuju, Muhammad Padil, dan komunitas petani durian.

Salah satu topik yang dibahas adalah mata rantai bisnis durian Sulbar, pengembangan durian musangking, pembibitan, serta upaya menjadikan Sulbar sebagai penghasil durian terbesar di Indonesia.

Pj Gubernur Sulbar Bahtiar mengatakan bahwa komoditi durian merupakan salah satu komoditi unggulan di Sulbar, dan menurutnya Sulbar perlu membuat branding sendiri. Selain itu, komoditi durian memiliki potensi pasar yang besar, dan Sulbar yang dinilainya cocok untuk mengembangkan durian.

"Bisnis durian besar sekali peluangnya, tapi urus dulu hulunya, yaitu pembibitan. Durian bisa mengangkat ekonomi Sulbar dan bisa menjadi karakter (identitas khas) Sulbar karena memang kita daerah pegunungan yang memiliki tanah yang subur," ujar Pj Gubernur Sulbar Bahtiar dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (19/9/2024).

Kelebihan lain dari komoditi durian dikatakan olehnya adalah lahan dapat ditanami tanaman sela yang bersahabat dengan tanaman durian, misalnya kakao dan kopi.

"Saya akan serius mengurus durian dan saya harap, masyarakat terus dibina untuk mengenal pola pengembangan durian di Sulbar," sambungnya.

Ketua Asosiasi Petani Durian Sulbar Sumargani bersyukur dapat duduk bersama Pj Gubernur Sulbar, Bahtiar. Pertemuan ini ia nilai mampu menjadi motivasi dan harapan bagi petani untuk terus mengembangkan komoditi durian di Sulbar.

"Ini luar biasa. Ternyata kami tidak sendiri, dengan di-support Pak Gubernur ini jadi motivasi kami petani di Sulbar," ucap Sumargani.

Bahtiar yakin, jika penanaman dimulai sekarang, Sulbar bisa menjadi penghasil durian musangking terbesar di Indonesia dalam tiga tahun ke depan.

Ia mengatakan bahwa pemerintah juga akan memberikan bantuan berupa 1 juta bibit durian musangking pada 2025 yang akan dibagikan kepada warga Sulbar.

Hal itu juga dilakukan untuk mempertimbangkan agar para pedagang durian tidak mengeluh karena ketersediaan durian montong di Sulbar sangat terbatas, sementara permintaan pasar sangat tinggi.

"Satu usulan saya, ada semacam kios durian yang buka setiap hari di Sulbar seperti di medan. Ini juga akan menjadi daya tarik wisatawan ke Mamuju," harap Bahtiar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau