Kesepakatan itu menjadi tonggak baru dalam upaya menjadikan Borobudur sebagai destinasi pariwisata spiritual berbasis budaya.
Nota kesepahaman tersebut mencakup pengelolaan kawasan Candi Borobudur secara terpadu, kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, serta pertukaran data dan informasi antara kedua belah pihak.
Langkah itu juga menegaskan peran PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC)—anak usaha InJourney yang kini bernama InJourney Destination Management—sebagai pengelola tunggal atau single destination management kawasan Candi Borobudur.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan di Wisma Danantara Indonesia oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan serta Direktur Utama InJourney Maya Watono.
Acara tersebut juga disaksikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Chief Executive Officer PT Danantara Asset Management (Persero) Dony Oskaria, dan Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan.
“Momentum ini sangat baik untuk menghadirkan semangat kebudayaan dalam pengelolaan kompleks Candi Borobudur. Upaya InJourney seperti pengaturan alur kunjungan dan pengembangan Kampung Seni Borobudur sudah berada di jalur yang tepat. Harapannya, kita dapat menata Borobudur secara progresif dan inklusif, sehingga manfaatnya terasa oleh semua kalangan,” ujar Fadli Zon dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (31/7/2025).
Sementara itu, Dony Oskaria menambahkan bahwa Candi Borobudur merupakan salah satu magnet utama pariwisata Indonesia.
Ia mencontohkan penguatan promosi wisata lewat pembukaan konektivitas Bangkok–Yogyakarta dan program familiarization trip yang melibatkan 250 agen perjalanan untuk memperkenalkan potensi kawasan Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar), khususnya Borobudur.
“Pengelolaan destinasi strategis seperti Borobudur diarahkan untuk tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat. Parameter kerja InJourney kini menempatkan kesejahteraan sosial dan dampak lokal sebagai prioritas utama,” kata Dony.
Melalui kerja sama tersebut, Museum Candi Borobudur di bawah Kementerian Kebudayaan tetap menjalankan fungsi pelestarian budaya, sedangkan InJourney Destination Management berperan sebagai fasilitator pariwisata dengan pendekatan edukatif dan autentik.
“Kolaborasi ini mencerminkan aspirasi bersama untuk menjadikan Borobudur sebagai destinasi pariwisata spiritual dan budaya yang berkelanjutan. Sebuah warisan bangsa yang tak hanya dinikmati, tetapi juga dijaga,” tutur Maya Watono.
Kerja sama itu sekaligus menandai sinergi dua entitas besar, yakni InJourney sebagai holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, serta Kementerian Kebudayaan sebagai penjaga nilai historis dan spiritual.
Keduanya sepakat bahwa Candi Borobudur bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup budaya, tempat pelestarian, dan pemanfaatan berjalan beriringan.
“Kami menyadari bahwa integrasi ini bukan soal teknis semata. Ini adalah tanggung jawab kolektif terhadap warisan dunia. Lewat berbagai program budaya di kawasan Borobudur, kami mencatat adanya peningkatan pertumbuhan masyarakat sekitar sebesar 5,6 persen secara tahunan,” tambah Maya.
Sebagai bagian dari upaya menghadirkan pengalaman berwisata yang mendalam, InJourney melalui InJourney Destination Management telah menyiapkan sejumlah program berbasis budaya.
Salah satu yang paling diminati adalah program “Borobudur Sunrise” yang memungkinkan wisatawan menikmati keindahan matahari terbit dari candi pada pukul 04.00 waktu setempat.
Selain itu, sejumlah program lain juga disiapkan untuk memperkaya kunjungan wisatawan. Pengalaman berwisata di Borobudur tidak hanya menjadi kunjungan biasa, tetapi juga perjalanan jiwa yang sarat nilai budaya dan spiritualitas.