Advertorial

Melek Keuangan Bukan Sekadar Tren, tapi Investasi Masa Depan

Kompas.com - 26/09/2025, 22:27 WIB

KOMPAS. Com – Kompasiana bersama SPayLater menggelar acara Financial Literacy on the Way (FLOW) dengan tema “Spend Wisely, Glow Brightly” di Auditorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025).

Kegiatan tersebut merupakan wadah edukasi dan sekaligus inspirasi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk memahami peran penting pengelolaan keuangan yang bijak di era digital.

Di tengah perkembangan teknologi yang serbacepat, literasi keuangan kini menjadi keterampilan penting yang wajib dimiliki setiap individu.

Dengan keberagaman produk dan layanan keuangan yang tersedia, pemahaman cara mengelola keuangan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Tantangan terbesar saat ini bukan hanya tentang cara masyarakat dapat mengakses layanan keuangan, melainkan juga soal memahami risiko dan manfaat dari setiap keputusan finansial yang diambil.

Oleh karena itu, literasi keuangan hadir sebagai kunci agar masyarakat dapat mengambil langkah yang bijak, aman, dan terarah dalam merencanakan masa depan finansialnya.

Dalam sambutannya, Asisten Direktur Pembinaan Karakter, Organisasi Kemahasiswaan, Olahraga, dan Kesenian Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan IPB Muh Faturokhman, SPt, Msi, mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan literasi keuangan. Pasalnya, literasi keuangan sangat penting demi membangun fondasi masa depan yang lebih baik.

“Saya berharap, kegiatan ini dapat menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu memutus rantai kesalahan finansial. Dengan begitu, kita lebih siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan,” ujar Faturokhman dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (26/9/2025).

Sementara itu, COO Kompasiana Heru Margianto menjelaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga mencerminkan kualitas hidup yang lebih terarah dan bermanfaat.

Oleh karena itu, ia mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk lebih cermat dalam mengatur anggaran dan budgeting. Dengan demikian, keputusan finansial yang diambil tidak hanya memengaruhi kehidupan saat ini, tetapi juga menjadi bekal penting dalam membangun masa depan yang lebih stabil dan sejahtera.

Signifikansi program literasi keuangan

Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan solusi finansial yang aman dan terjangkau, SPayLater Indonesia turut memberikan pemaparan dalam acara ini melalui Direktur Anggie Setia Ariningsih.

Dalam pemaparannya, Anggie menjelaskan bahwa berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini, indeks inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 80,5 persen dengan indeks literasi keuangan mencapai 66,5 persen.

Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa meski akses terhadap layanan keuangan digital semakin luas, pemahaman masyarakat dalam mengelolanya masih belum seimbang.

Anggie Setia Ariningsih, Direktur SPayLater Indonesia sedang memberikan penjelasan terkait SPayLater Indonesia.Dok. SPayLater Anggie Setia Ariningsih, Direktur SPayLater Indonesia sedang memberikan penjelasan terkait SPayLater Indonesia.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi alasan kenapa program literasi keuangan yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda perlu diselenggarakan.

“Bentuknya bisa berupa kegiatan interaktif, seperti workshop, talk show, dan kampanye digital yang mudah diikuti,” tuturnya.

Melalui pendekatan itu, mahasiswa dan pengguna layanan keuangan digital tidak hanya memahami berbagai jenis layanan yang tersedia, tetapi juga belajar memanfaatkannya secara bijak. Dengan begitu, mahasiswa dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak.

“Literasi finansial sangat penting agar kita bisa mandiri, tidak bergantung pada orangtua, dan siap menghadapi dunia kerja. Dengan pemahaman yang tepat, mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan peluang dari ekonomi kreatif, seperti freelance, UMKM digital, hingga menjadi konten kreator, tetapi juga berperan sebagai ujung tombak perubahan,” terang Anggie.

Perwakilan dari Komite Pembiayaan Syariah Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia APPI) dan OJK Yusron Hibrizie mengatakan, pembiayaan syariah memiliki potensi besar untuk memberikan solusi finansial yang inklusif dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sebagian masyarakat Indonesia.

Ia juga mengingatkan kembali bahwa produk pembiayaan adalah salah satu pilihan solusi dan literasi keuangan dapat membantu mahasiswa untuk memahami banyak pilihan solusi lain.

Literasi keuangan, jelasnya, bukan hanya soal memahami angka, melainkan tentang membangun kemandirian dan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan finansial. Dengan pemahaman yang tepat, setiap peluang bisa diubah menjadi kesejahteraan.

“Lagi-lagi kenali terlebih dahulu apa kebutuhan Anda,” ucap Yusron.

Asisten Direktur Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK Chadra Shadiq Faritzi yang turut mengisi acara menerangkan bahwa lembaganya terus memperkuat peran dalam melindungi konsumen serta memastikan setiap produk keuangan yang beredar di masyarakat memenuhi standar keamanan dan transparansi.

Ia menegaskan, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk mewujudkan ekosistem keuangan yang sehat. Salah satu langkah nyata yang telah dilaksanakan adalah OJK PEDULI. Inisiatif ini mendorong kelahiran duta literasi keuangan dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa.

Melalui multiplier effect itu, para duta diharapkan bisa membawa literasi keuangan lebih masif dan merata.

“Mahasiswa punya peran strategis dalam hal ini. Mereka dapat menjadi duta literasi keuangan di lingkungannya, teladan dalam mengelola keuangan pribadi, dan sekaligus menginspirasi keluarga, teman, serta komunitas sekitar agar lebih bijak menggunakan produk keuangan. Dengan begitu, literasi finansial tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menyebar lebih luas dan berdampak nyata,” jelas Chandra.

Selain dari lembaga resmi, gerakan literasi keuangan juga digalakkan oleh individu dan komunitas yang memiliki semangat berbagi pengetahuan.

Narasumber berfoto bersama pada acara FLOW Spend Wisely, Glow Brightly.Dok. SPayLater Narasumber berfoto bersama pada acara FLOW Spend Wisely, Glow Brightly.

Salah satunya adalah Founder Mamaberuang: Financial Literacy Ayu Sara Herlia. Ia memaparkan soal manfaat pencatatan pengeluaran harian.

“Catat pengeluaran harian, bisa pakai spreadsheet, aplikasi budgeting, notes sederhana atau e-wallet. Tujuannya biar tahu ke mana uang lari setiap bulannya. Dengan tracking, kamu bisa identifikasi kebocoran finansial dan mengontrol impulsive spending. Jangan lupa, sisihkan juga untuk dana darurat,” kata Ayu.

Dengan kehadiran berbagai pihak yang memiliki visi yang sama, masyarakat kini semakin mudah memperoleh informasi keuangan yang benar dan tepercaya.

Edukasi semacam ini diharapkan dapat membantu kalangan muda mengambil keputusan yang lebih bijak, baik dalam mengatur pengeluaran sehari-hari maupun saat merencanakan masa depan finansial.

Kolaborasi lintas pihak juga menjadi langkah penting untuk memperluas inklusi keuangan sehingga layanan finansial dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang selama ini belum tersentuh edukasi formal.

Melalui literasi yang kuat, masyarakat akan lebih percaya diri dalam mengelola keuangannya dan terhindar dari risiko penggunaan produk keuangan yang tidak transparan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau