Gelombang Tinggi, Seorang Wisatawan Hilang

Kompas.com - 07/01/2008, 14:35 WIB

CILACAP, KOMPAS - Seorang wisatawan yang terseret gelombang pantai selatan Jawa pada Minggu (6/1) sore hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Angin kencang dan gelombang tinggi juga mengakibatkan hasil tangkapan nelayan Cilacap semakin sedikit. Penghasilan per hari setiap nelayan pun anjlok hingga 90 persen.
 
Camat Ayah, Tugiyono, Senin (7/1), mengatakan, pada Minggu sore kemarin, sekitar pukul 17.30, ada dua wisatawan Khaerul Anwar (18) dan Supriyanto (14) terseret ombak setinggi dua meter saat mandi di sekitar Pantai Logending. Kedua wiatawan itu merupakan siswa Pondok Pesantren Al-Iksan di Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.
 
Hingga Senin ini, pihaknya bersama Tim Search and Rescue Walet Perkasa Kebumen baru berhasil menemukan Supriyanto di sekitar Pantai Logending dalam kondisi selamat. "Namun Khaerul Anwar belum berhasil kami temukan. Kondisi cuaca juga buruk, gelombang laut masih tinggi, sehingga kami kesulitan untuk mencarinya," katanya menjelaskan.
 
Pada hari yang sama, sekitar pukul 18.30, gelombang tinggi juga mengakibatkan perahu fiber Rajam yang berawakan tiga orang nelayan asal Desa Tegal Katilayu, Kecamatan Cilacap Selatan, terbalik di sekitar perairan Cilacap, dekat Pulau Nusakambangan.
 
Ketua Kelompok Nelayan Sentolokawat, Rasino yang ikut membantu penyelamatan tiga nelayan tersebut mengatakan, ketiga nelayan itu ditemukan terapung-apung di tengah laut oleh nahkoda asal India, Vinal Chand. Nahkoda asing itu sedang menahkodai Kapal Tangker NT Arendal berbendera India untuk memasok minyak mentah ke kilang PT Pertamina.
 
"Ketiganya bisa langsung diselamatkan dan sudah kembali pulang. Perahunya juga bisa diselamatkan," ucapnya.
 
Bagi nelayan Cilacap, gelombang tinggi selama musim angin barat berlangsung ini memang menyulitkan nelayan untuk menangkap ikan. Bulan Desember lalu, nelayan hanya bisa melaut selama 18 hari. Penghasilan mereka juga anjlok hingga 90 persen.
 
Sedangkan Senin ini, lebih dari 100 nelayan di Pantai Lengkong, Kabupaten Cilacap, terpaksa pulang kembali dari melaut, sekitar pukul 10.00. Perahu mereka diterjang angin kencang dan dihadang gelombang laut setinggi tiga meter.
 
"Gelombang lautnya tinggi sekali sampai tiga meter, padahal itu masih di sekitar Pulau Nusakambangan," ucap Darsam (40), nelayan dari Dusun Merta Singa, Desa Lengkong, Kecamatan Cilacap Utara.
 
Menurutnya, gelombang tinggi di tengah Samudera Hindia  mencapai empat meter. Itu sebabnya, ia tak berani melaut hingga ke tengah samudera, dan paling lama melaut hanya sekitar dua jam. "Berangkat sekitar pukul 06.00, pulang harus pukul 10.00. Kalau sampai pukul 15.00 belum pulang, kami bisa celaka diterjang gelombang tinggi. Biasanya kami melaut sampai pukul 15.00 hingga 17.00," kata Darsam menjelaskan.
 
Hadi Rasiwan (50), nelayan lainnya daril Desa Lengkong juga mengaku, kini dirinya hanya bisa memperoleh pendapatan bersih Rp 7.500 per hari, dan tangkapannya juga hanya udang ebi. Padahal biasanya dirinya bisa memperoleh pendapatan bersih Rp 70.000 hingga lebih dari Rp 100.000 per hari dari penjualan ikan hasil tangkapannya.
 
"Sekarang ini melaut, paling hanya memperoleh hasil penjualan ikan sebesar Rp 100.000. Itu harus dipotong lagi oleh biaya bensin dan perbekalan, paling tidak Rp 70.000. Sisanya Rp 30.000 dibagi lagi untuk empat awak kapal, tinggal Rp 7.500 per orang," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau