Banjir Tak Ganggu Ketahanan Pangan Nasional

Kompas.com - 07/01/2008, 16:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah memastikan bahwa bencana banjir tidak akan mengganggu ketahanan pangan secara nasional. Sebab, sawah yang gagal panen atau puso akibat musim hujan baru seluas 43.000 hektar atau masih di bawah rata-rata sawah yang puso selama lima tahun terakhir, yaitu 50.000 hektar.

Akan tetapi, dampak hujan dan banjir selama ini, justru akan mengganggu tingkat ketahanan pangan di tingkat lokal atau daerah, khususnya kepada petani dan sawahnya.

Demikian diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, saat  menjawab pers, dalam keterangan seusai Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Senin (7/1).

Sidang  yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla serta seluruh menteri kabinet itu merupakan Sidang Kabinet Paripurna pertama yang diadakan di tahun 2008 ini. Sidang Kabinet Paripurna berlangsung sejak pukul 09.00 wib dan baru selesai pukul 14.00 wib.

"Terkait banjir dan hujan yang terjadi  sejak Oktober 2007 lalu, yang puso itu baru 43.000 hektar. Jadi, itu masih di bawah rata-rata lima tahun sebesar 50.000 hektar atau masih normal. Itu artinya secara nasional, hujan dan banjir selama ini tidak mengganggu ketahanan pangan secara nasional. Namun, tentu saja, secara lokal itu akan mengganggu, terutama kepada petani dan sawahnya," ujar Anton.

Menurut Anton, dalam target produksi sebenarnya sudah dimasukkan unsur kegagalan panen. Oleh sebab itu, sudah ditargetkan luas tanamnya  sekitar 12,24 juta hektar. Adapun luas panennya mencapai 12 juta hektar. "Ini berarti, yang sudah diperhitungkan ada sekitar 240.000 hektar sawah yang akan mengalami kegagalan panen atau puso," tambah Anton.

Anton mengatakan, untuk itu sejumlah langkah jangka pendek dan jangka menengah serta panjang untuk mengatasi meluasnya gagal panen. "Jangka pendek, pemerintah akan memberikan benih dan pupuk yang dapat segera ditanam kembali sawahnya setelah air banjir susut. Adapun jangka menengah dan panjang, pemerintah akan melakukan penyelamatan aliran sungai. Ini merupakan keharusan agar tidak terjadi banjir," demikian Anton.         

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau