Cerpen Korea Mengilhami, Indonesia Mencemaskan

Kompas.com - 08/01/2008, 02:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Peluncuran dan bedah buku Laut dan Kupu-kupu: Kumpulan Cerpen Korea, Kamis (17/1) di Bentara Budaya Jakarta, oleh penerbit Gramedia tidak saja mengiring orang ke atmosfer Korea, tetapi juga bisa mengilhami para cerpenis Indonesia.

Menurut sastrawan Hamsad Rangkuti, cerpen Korea oleh penulisnya ditulis tanpa batas, panjang-panjang. ”Cerita begitu mengalir, saya senang. Penulis cerpen Korea menyampaikan persoalan tidak sambil lalu. Permasalahan yang diangkat sangat kuat. Sedangkan cerpen Indonesia ditulis hanya untuk kepentingan surat kabar yang panjangnya dibatasi maksimal 11.000 karakter. Ini bahaya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Maman S Mahayana, pengamat sastra yang menulis pengantar buku kumpulan cerpen Korea tersebut, mengatakan, secara konseptual, cerpen-cerpen Korea agaknya makin menegaskan para pembaca di Indonesia untuk mempertimbangkan kembali sejumlah konsep baku yang selama ini menjadi semacam paradigma dalam sistem pengajaran sastra di berbagai institusi pendidikan, terutama tentang pengertian cerpen dan hakikatnya.

Buku Laut dan Kupu-kupu: Kumpulan Cerpen Korea setebal 370 + xix halaman itu, yang diterjemahkan Koh Young Hun dan Tommy Christomy, memuat 12 cerpen Korea (Selatan) yang mewakili perjalanan cerpen Korea sejak perang Korea tahun 1950, zaman industrialisasi, gerakan rakyat nasionalis, hingga imajinasi baru abad ke-21. Penulisnya antara lain Ha Geun Chan, Kim Seung Ok, Hwang Sok Yong, dan Kim Nam II.

Dalam peluncurannya Kamis sore kemarin, dipentaskan pula salah satu cerpen berjudul Kerja, Nasi, Kebebasan karya Kim Nam Il, oleh Sanggar Seni Obor Sakti Bogor dengan sutradara Atang Supriatna.

Koh Young Hun mengatakan, walaupun Indonesia sudah menjalin hubungan kerja sama dengan Indonesia sejak 40 tahun lalu, penerjemahan karya sastra belum banyak dilakukan. ”Di Korea, menerjemahkan karya kurang dihargai,” kata Koh Young Hun yang kini menjabat Deputy Chairman of Korea Association of Malay-Indonesia Studies dan Chairman of Pusat Budaya Indonesia, Seoul. (NAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau