JAKARTA, PERSDA- Inilah pertarungan antara dua jenderal. Ardan Aras, motor Pelita Jaya Purwakarta versus Zah Rahan Krangar, pengatur serangan Sriwijaya FC. Kedua tim bertempur pada semi final Piala Copa Dji Sam Soe di Stadion Gelora Bung Karno, Kamis (9/1).
Persaingan kedua jendral makin memanas setelah masing-masing masuk nominasi Best midfielder bintang emas Copa tahun ini. Pastinya, penampilan terbaik di semi final bakal membuka pintu untuk bintang emas di antara delapan nominator gelandang terbaik lainnya.
Pelatih Pelita, Fandi Ahmad tak ragu menyebut Ardan sebagai andalannya. "Ia (Ardan Aras) saya pastikan bisa tampil sebagai starter. Cedera yang dialami sepulang dari pentas Sea Games lalu sudah pulih. Ia sudah siap kami mainkan," kata Fandi Ahmad seusai jumpa pers di Hotel The Sultan, Senayan, Jakarta, Rabu (9/1).
Kondisi Ardan --adik kandung gelandang PSM Irsyad Aras, saat ini juga semakin membaik. Selepas cedera yang dialaminya, ia telah dimainkan dua kali. Satu diantaranya ketika Pelita Jaya menekuk Persita Tangerang dengan skor 2-0 di babak perempatfinal Copa Indonesia, Minggu (6/1) lalu.
Saat itu, Ardan memperlihatkan kualitas sebagai playmaker masa depan Indonesia. Dua gol yang dicetak Ivan Jurkovic dan Egi Melgiansyah adalah buah kejelian Ardan melihat posisi kedua rekannya yang berdiri bebas. Di pihak lain, Zah Rahan terbukti sukses menjadi motor tim. Misalnya, pada musim 2006-2007, gelandang asal Liberia ini membawa Persekabpas Pasuruan dari sebuah tim biasa-biasa saja menjadi kekuatan yang menakutkan. Bahkan menembus Delapan Besar Divisi Utama 2006-2007. Kini, berkat aksi Zah Rahan pula prestasi Sriwijaya FC melambung.
Di tim Wong Kito, Zah Rahan merasakan sentuhan Rahmad Darmawan, salah satu pelatih lokal terbaik saat ini. Selain Zah Rahan, Sriwijaya FCjuga memiliki pemain-pemain lokal dan asing terbaik, sebutlah Ferry Rotinsulu, Korinus Fingkreuw, Charis Yulianto, dan Chrsitian Lenglolo.
Sementara, pelatih masing-masing tim memilih merendah. Fandi Ahmad, arsitek Pelita Jaya ogah sesumbar. Bahkan ia sudah bersyukur tim asuhannya sudah masuk empat besar Copa Dji Sam Soe tersebut. "Tim kami sudah cukup bagus bisa menembus putaran semifinal. Ini hasil mengembirakan dari para pemain muda kami. Di antara empat tim yang berlaga, tim kami ini hanyalah berada di urutan terakhir bisa menjadi juara. Kami hanya 'Kuda Hitam'," jelasnya.
Kekuatan tim asuhan Fandi Ahmad terletak pada legiun asing seperti striker Cristian Lopes, Aldolfo de Souza dan Ivan Jurkovic. Selain itu, mereka memiliki Egi Melgiansyah yang merupakan bintang masa depan tim nasional.
Demikian juga Rahmad Darmawan, coach Sriwijaya FC. Ia pun tak memasang target muluk. Ia hanya ingin para pemainnya tampil sebaik mungkin. "Pelita adalah tim yang cerdik dengan pelatih yang juga kita tahu kualitasnya. Mereka pandai memanfaatkan kelemahan lawan dengan bisa bermain cepat dan mematikan. saya harus melihat itu sebagai ancaman," kata Rahmad, yang membawa Persipura juara Divisi Utama 2005.
Ia pun mengakui, Pelita tak bisa dianggap remeh. Kesuksesan mereka menyingkirkan Persita yang ditukangi pelatih yang dua kali menjuarai Copa Indonesia, Benny Dollo, di babak perempatfinal adalah bukti nyata ketangguhan tim berjuluk Pendekar Gunung Parang tersebut.(Persda Network/Arif Fudin Usman)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang