Sriwijaya vs Pelita: Duel Dua Jenderal

Kompas.com - 10/01/2008, 13:49 WIB

JAKARTA, PERSDA- Inilah pertarungan antara dua jenderal. Ardan Aras, motor Pelita Jaya Purwakarta versus Zah Rahan Krangar, pengatur serangan Sriwijaya FC. Kedua tim bertempur pada semi final Piala Copa Dji Sam Soe di Stadion Gelora Bung Karno, Kamis (9/1).

Persaingan kedua jendral makin memanas setelah masing-masing masuk nominasi Best midfielder bintang emas Copa tahun ini. Pastinya, penampilan terbaik di semi final bakal membuka pintu untuk bintang emas di antara delapan nominator gelandang terbaik lainnya.

Pelatih Pelita, Fandi Ahmad tak ragu menyebut Ardan sebagai andalannya. "Ia (Ardan Aras) saya pastikan bisa tampil sebagai starter. Cedera yang dialami sepulang dari pentas Sea Games lalu sudah pulih. Ia sudah siap kami mainkan," kata Fandi Ahmad seusai jumpa pers di Hotel The Sultan, Senayan, Jakarta, Rabu (9/1).

Kondisi Ardan --adik kandung gelandang PSM Irsyad Aras,  saat ini juga semakin membaik. Selepas cedera yang dialaminya, ia telah dimainkan dua kali. Satu diantaranya ketika Pelita Jaya menekuk  Persita Tangerang dengan skor 2-0 di babak perempatfinal Copa Indonesia, Minggu (6/1) lalu.

Saat itu, Ardan memperlihatkan kualitas sebagai playmaker masa depan Indonesia. Dua gol yang dicetak Ivan Jurkovic dan Egi Melgiansyah adalah buah kejelian Ardan melihat posisi kedua rekannya yang berdiri bebas. Di pihak lain, Zah Rahan terbukti sukses menjadi motor tim. Misalnya, pada musim 2006-2007, gelandang asal Liberia ini  membawa Persekabpas Pasuruan dari sebuah tim biasa-biasa saja menjadi kekuatan yang menakutkan. Bahkan menembus Delapan Besar Divisi Utama 2006-2007. Kini, berkat aksi Zah Rahan pula prestasi Sriwijaya FC melambung.

Di tim Wong Kito, Zah Rahan merasakan sentuhan Rahmad Darmawan, salah satu pelatih lokal terbaik saat ini. Selain Zah Rahan, Sriwijaya FCjuga memiliki pemain-pemain lokal dan asing terbaik, sebutlah Ferry Rotinsulu, Korinus Fingkreuw, Charis Yulianto, dan Chrsitian Lenglolo.

Sementara, pelatih masing-masing tim memilih merendah. Fandi Ahmad, arsitek Pelita Jaya  ogah sesumbar. Bahkan ia sudah bersyukur tim asuhannya sudah masuk empat besar Copa Dji Sam Soe tersebut. "Tim kami sudah cukup bagus bisa menembus putaran semifinal. Ini hasil mengembirakan dari para pemain muda kami. Di antara empat tim yang berlaga, tim kami ini hanyalah berada di urutan terakhir bisa menjadi juara. Kami hanya 'Kuda Hitam'," jelasnya.

Kekuatan tim asuhan Fandi Ahmad terletak pada legiun asing seperti striker Cristian Lopes, Aldolfo de Souza dan Ivan Jurkovic. Selain itu, mereka memiliki Egi Melgiansyah yang merupakan bintang masa depan tim nasional.

Demikian juga Rahmad Darmawan, coach Sriwijaya FC. Ia pun  tak memasang target muluk. Ia hanya ingin para pemainnya tampil sebaik mungkin. "Pelita adalah tim yang cerdik dengan pelatih yang juga kita tahu kualitasnya. Mereka pandai memanfaatkan kelemahan lawan dengan bisa bermain cepat dan mematikan. saya harus melihat itu sebagai ancaman," kata Rahmad, yang membawa Persipura juara Divisi Utama 2005.

Ia pun mengakui, Pelita tak bisa dianggap remeh. Kesuksesan mereka menyingkirkan Persita yang ditukangi pelatih yang dua kali menjuarai Copa Indonesia, Benny Dollo, di babak perempatfinal adalah bukti nyata ketangguhan tim berjuluk Pendekar Gunung Parang tersebut.(Persda Network/Arif Fudin Usman)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau