Pedagang Makanan Kecil Terancam Tutup

Kompas.com - 10/01/2008, 16:47 WIB

TEGAL, KOMPAS- Minyak tanah semakin sulit diperoleh di Kota Tegal. Selain terjadi antrian di mana-mana, harga minyak tanah di pedagang eceran sangat tinggi. Sejumlah pedagang makanan kecil di sana mengeluh terancam gulung tikar akibat kelangkaan tersebut.

Dian Hardianto (31), pedagang roti bakar di Kawasan Alun-alun Kota Tegal, Kamis (10/1) mengatakan, kesulitan minyak tanah sudah berlangsung lebih dari dua minggu. Namun semakin parah terjadi dalam satu minggu terakhir.

Untuk mendapatkan minyak tanah, ia harus mencari ke sejumlah pengecer di wilayah Kota Tegal. Itu pun tidak setiap hari dapat diperoleh. Selain itu, harganya juga mahal, mencapai Rp 3.500 per liter. Bahkan meskipun sudah membeli dengan harga mahal, minyak tanah yang diperoleh sedikit, hanya sekitar lima liter.

Padahal, selama ini ia sangat membutuhkan minyak tanah untuk kelangsungan usahanya. Dalam sehari, ia membutuhkan dua liter minyak tanah untuk membuat roti dan pisang bakar, serta memasak air.

Apabila tidak mendapatkan minyak tanah, ia terpaksa harus berhenti berjualan. Akibatnya, ia kehilangan keuntungan sekitar Rp 20.000 per hari. Apabila hal itu terus berlanjut, usahanya terancam tutup, 

Dian mengatakan, sebagai pedagang kecil ia tidak dapat mengandalkan bahan bakar lain, seperti gas dan kayu bakar. Harga kayu bakar lebih mahal dari pada minyak tanah. Pemakaian kayu bakar seharga Rp 4.000 hanya setara dengan pemakaian minyak tanah satu liter.

Sementara meskipun harga gas lebih murah daripada minyak tanah, jenis bahan bakar tersebut tidak dapat dibeli secara eceran. Sebagai pedagang kecil, ia tidak mampu menjangkaunya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau