Mantan presiden

Semuanya, demi Soeharto...

Kompas.com - 11/01/2008, 03:00 WIB

Inilah cerita tentang hebatnya mantan Presiden Soeharto. Sejak ia kembali sakit untuk kesekian kalinya dan dirawat di Kamar 536 Presiden Suite, Lantai V, Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta, Jumat (4/1), pekan lalu, mantan penguasa masa Orde Baru itu seolah-olah menjadi "bintang" dan seolah-olah memiliki kuasa.

Soeharto memang layak dijadikan "bintang", dalam berita utama media nasional. Sering kali, berita Soeharto itu justru mengalahkan berita lainnya, seperti banjir, longsor, dan air laut pasang. Juga dampak harga minyak mentah dunia dan inflasi, yang kini dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian negara.

Selain mendapat kunjungan luar biasa, Soeharto juga mendapat pelayanan yang terbaik. Sebagai mantan Presiden RI selama enam periode (30 tahun) dan jenderal besar (bintang lima), semua itu layak diberikan kepada Soeharto. Negara dan orang-orang yang telah mendapat kehormatan dan keuntungan tentu harus membalas jasa-jasanya, tanpa terkecuali.

Sebagaimana diketahui, sehari setelah masuk RSPP lagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Muhammad Jusuf Kalla menengok Soeharto. Kemudian mantan pejabat-pejabat di eranya dan di era sekarang ini, menyusul berdatangan atau sekadar mengirim bunga.

Sebut saja mulai dari Ketua DPR Agung Laksono, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar, dan Bob Hasan, termasuk pengusaha Probosutedjo yang mendapat izin keluar dari LP Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Juga mantan Wapres Hamzah Haz, mantan Menko Kesra Haryono Suyono, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, serta mantan Menteri Koperasi Subiakto Tjakrawerdaya. Termasuk, Panglima TNI Djoko Santoso, yang menyempatkan menengok tengah malam, dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Setelah menengok, sebagian besar dari mereka mendukung perkara hukum Soeharto dihentikan dengan alasan jasa-jasanya yang besar dan sakitnya Soeharto.

Sepulang menengok, Presiden mengundang Wapres dan sejumlah menterinya di Istana Negara, untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi Soeharto. Presiden Yudhoyono selanjutnya menggelar keterangan pers.

Selain menegaskan komitmen pemerintah memberikan layanan kesehatan terbaik, Presiden juga berdoa. Namun, tentang isi pertemuan, Presiden tak menjelaskan. Mensesneg Hatta Radjasa yang sempat ditanya perihal status hukum Soeharto yang dibahas dalam pertemuan tersebut juga ogah berkomentar.

Perhatian tinggi

Perhatian pemerintah pada Soeharto sangat tinggi. Selain menerjunkan Tim Dokter Kepresidenan, pemerintah melalui Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pun telah mengintruksikan semua rumah sakit di Jakarta, yang memiliki peralatan medis modern, untuk mem-back-up RSPP memulihkan kesehatan Soeharto.

Tak hanya itu, Partai Golkar di mana Soeharto pernah menjadi Ketua Dewan Pembina juga menggelar rapat khusus. Seusai rapat, pukul 23.00 >small 2small 0<, di sebuah hotel bintang lima di Senayan, Partai Golkar mengadakan keterangan pers. Golkar meminta pemerintah mengesampingkan kasus hukum perkara Soeharto. Alasannya, tak hanya sekadar kondisi Soeharto yang tidak memungkinkan, akan tetapi juga mengingat jasanya yang besar.

Rabu (9/1) malam, sekalian malam tahun baru Islam, Ketua Umum DPP Partai Golar Jusuf Kalla menggelar doa dan zikir bagi kesehatan Soeharto di kediaman dinasnya. Acara itu dihadiri sejumlah petinggi Golkar.

Perhatian yang besar dari siapa pun terhadap Soeharto harus diacungi jempol. Namun, status hukum Soeharto hingga kini masih kontroversi dengan rasa keadilan masyarakat. (SUHARTONO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau