Kesulitan Minyak Tanah, Nelayan Tradisional di Tegal Tak Dapat Melaut

Kompas.com - 11/01/2008, 21:20 WIB

TEGAL, KOMPAS -  Sejumlah nelayan tradisional di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal mengeluh kesulitan melaut, akibat tidak mendapatkan minyak tanah. Sejak sepekan lalu, minyak tanah mulai sulit diperoleh di sana. Harganya pun mahal, mencapai Rp 3.500 per liter.

Tarsan (37), nelayan tradisional di Kelurahan Muarareja, Jumat (11/1) mengatakan, kesulitan minyak tanah sangat terasa dalam satu minggu terakhir. Saat ini, ia dan sejumlah nelayan tradisional di sana terpaksa menunda jadwal melaut karena tidak mendapatkan minyak tanah.

Menurut Tarsan, minyak tanah merupakan bahan bakar utama perahu tradisional. Selama ini nelayan tidak berani menggunakan solar karena harganya mahal dan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
Tarsan mengaku melaut untuk jangka waktu lima hari, dengan empat anak buah kapal atau ABK. Hasil tangkapan yang diperoleh berupa rajungan. Sekali melaut, ia membutuhkan sekitar 110 liter minyak tanah. Selain untuk bahan bakar perahu, minyak tanah juga digunakan untuk memasak selama berada di laut.

Seharusnya, Tarsan dan teman-temannya berangkat melaut sejak dua hari lalu. Namun karena belum mendapatkan minyak tanah sesuai kebutuhan, jadwal melaut terpaksa ditunda.Saat ini, ia mengaku sudah memesan minyak tanah ke pengecer setempat dan dijanjikan mendapatkannya hari Minggu. Namun karena harus berebut dengan nelayan lain, harga minyak tanah menjadi mahal, mencapai Rp 3.500 per liter. Padahal sebelumnya, harga minyak tanah hanya Rp 2.800 per liter.

Menurut Tarsan, kelangkaan minyak tanah sangat membebani nelayan kecil seperti dirinya. Selama ini, penghasilan mereka sudah pas-pasan. Terlebih akibat ombak besar yang berlangsung beberapa hari terakhir, hasil tangkapan yang diperoleh berkurang. Dari hasil melaut pekan lalu, ia hanya mendapatkan 20 kilogram rajungan. Harga rajungan Rp 43.000 per kilogram. Hasil tersebut hanya cukup untuk menutup biaya perbekalan yang mencapai sekitar Rp 800.000.

Hal senada disampaikan nelayan lainnya, Agus (36). Sejak dua hari lalu, ia kesulitan mendapatkan minyak tanah. Padahal kebutuhan minyak tanah untuk melaut selama satu hari sekitar 30 liter. Akibatnya saat ini, ia terpaksa menggunakan dayung untuk menggerakkan perahunya. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Dengan dayung, ia hanya dapat melaut di daerah pinggiran. Hasil yang diperoleh hanya sekitar enam hingga delapan kilogram ikan. Penghasilan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.

Menurut Agus, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, nasib nelayan tradisional akan semakin terpuruk. Padahal, jumlah nelayan tradisional di wilayahnya mencapai ratusan, dengan jumlah perahu sekitar 150 unit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau