PERNIKAHAN adalah peristiwa spesial yang tidak terbantahkan. Orang bisa saja berpacaran dua, tiga, bahkan hingga belasan kali. Termasuk, memiliki anak. Namun, bagi sebagian orang, hanya ada satu pernikahan dalam hidup. Sifatnya kekal, absolut, dan monogami.
Atas alasan itulah mengapa hari pernikahan bisa menjadi teramat sakral bagi kita kebanyakan. Agar membekas, tidak lekang oleh waktu, segelintir orang menjadikan acara pernikahan itu unik, kadang menjurus heboh. Inilah latar belakang yang melahirkan tren konsep pernikahan tematik.
Tengok saja resepsi pernikahan Indra Lesmana Suharli dan Diana, pekan lalu, di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Begitu menginjakkan kaki di koridor depan gedung ini, siapa pun yang sebelumnya pernah ke sini bakal dibuat pangling. Dinding dan langit-langit berbalutkan kain dan ornamen berwarna merah dan emas, warna kebahagiaan bagi etnis tertentu.
Sesuai tajuknya ”The Emperor of Heavenly Golden Palace”, resepsi ini layaknya pertunjukkan teatrikal. Mulai dari penyambut tamu, penyaji makanan, hingga pengiring pengantin, semua memakai kostum bergaya oriental. Kedua pengantin pun berakting layaknya raja dan ratu dari ”Kerajaan Langit”.
Kemewahan terpancar dari jubah mereka ala zaman Dinasti Tang yang berbalutkan satin hasil rancangan desainer Rudy Liem seharga puluhan juta rupiah.
Hall Konvensi Sabuga disulap menjadi ”Istana Langit”, lengkap dengan ornamen burung hong dan naga (hewan simbol kesetiaan), lampion, jembatan, taman, dan sebuah pagoda yang di dalamnya terdapat kue tar raksasa tujuh tingkat setinggi dua meter, karya DAF Decoration.
Tari-tarian etnik macam Tari Kipas Merah (Hong San Wo) dan Tari 1000 Tangan Dewi Kwan Im (Cien Se Kwan Im) tampil memesona layaknya pertunjukkan konser.
Di luar Hall, tamu yang hadir tertegun menyimak khidmatnya prosesi toast ”Teh Kebahagiaan” meski hanya melalui layar televisi plasma.
Liliany Fellicia, Project Officer Lucky Green, selaku wedding organizer resepsi ini mengatakan, kunci pernikahan tematis yaitu membuat rangkaian acara dalam satu in line (garis atau warna). ”Temanya harus seragam. Mulai dekorasi, make up, kostum, sampai souvenir harus satu aliran. Setidaknya, dalam hal warna,” ucapnya.
Sesuai tren saat ini, pernikahan tematis tidak hanya jadi domain selebritis. Diperkirakan tidak kurang dari 30 persen pengguna jasa wedding organizer memilih tematis sebagai konsepnya.
”Namun, hanya 30 persen dari itu (pemilih tematis) yang berani mengadaptasi suatu tema, misal orental, hingga lebih 60 persen dari aslinya. Eksklusivitas dan keunikan yang mendorong. Rata-rata, pasangan hanya memilih tema yang global dengan adaptasi yang minimal,” ungkap Rudy yang berpengalaman mendesain berbagai gaun pengantin dari berbagai tema.
Bermacam tema
Liliany mengatakan, ada bermacam-macam tema pernikahan. Mulai dari bergaya Eropa versi Renaissance dan Versailles, musim dingin, daun (hijau), Cinderella Wedding seperti yang digagasnya dalam pernikahan presenter Uya ”Tofu” dan Astrid, atau tema mawar dalam pernikahan penyanyi Andre ”Stinky”. Sejatinya, tema itu sangat bervariasi. Detailnya bergantung pada ide organizer dan urun rembuk pasangan.
Ide konsep tema pernikahan bisa muncul dari beragam media, mulai dari gambar, majalah, sampai film. Ide-ide itu dikembangkan dan diadaptasi sesuai kemampuan bujet dan kretaivitas vendor (penyedia) dekorasi. Dalam pernikahan Indra dan Diana ini, ide itu dikembangkan dari film-film layar lebar macam The Curse of Golden Flower, The Myth, The Banqet, dan epic Sun Go Kong. Persiapannya hingga setahun.
Lantas, yang paling penting, berapa besarnya bujet ? Sesungguhnya, ungkap Lily, tidak dapat dikatakan pernikahan tematis lebih mahal dari yang non-tematik. ”Biayanya tergantung dari detail, berapa banyak vendor dan seberapa banyak adaptasi. Biaya Rp 150 juta cukup kok,” tuturnya.
Sebagai gambaran, pernikahan Indra dan Diana yang melibatkan 20 vendor itu biayanya mencapai Rp 600 juta!
Biaya sebesar itu apakah sebanding dengan yang didapatkan ? ”Kami hanya ingin menularkan rasa bahagia ini kepada undangan yang datang. Syukur apabila diapresiasi lebih. Bukan ingin menonjolkan Chinese-nya, tetap lebih ke suasana dan semangatnya. Apalagi, ingat, pernikahan itu sekali seumur hidup,” ujar Indra L. Suharli di sela-sela resepsi pernikahannya. (Yulvianus Harjono)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang