Ada Depresi di Balik Semerbak Parfum?

Kompas.com - 13/01/2008, 10:57 WIB

TEL AVIV, MINGGU - Siapa menyangka di balik parfum seseorang yang semerbak mungkin tersembunyi perasaan tertekan dsn depresi. Seorang wanita yang memakai parfum terlalu wangi, misalnya, bisa jadi tak sadar bahwa dirinya tengah dilanda depresi.

Begitulah kira-kira simpulan seorang dokter dan peneliti penyakit autoimmune dari Universitas Tel Aviv, Israel, Dr. Yehuda Shoenfeld, saat mempelajari autoantibody. Pada kondisi normal antibodi digunakan untuk menyerang kuman, virus, dan penyebab penyakit lain yang masuk ke dalam tubuh. Namun, pada penderita penyakit-penyakit autoimmune, misalnya lupus, produksi antibodi terlalu berlebihan sehingga justru menyerang sel-sel tubuh.

"Temuan ilmiah kami menunjukkan bahwa wanita yang mengalami depresi juga kehilangan kepekaan indera penciumannya dan mungkin bentuk kompensasinya menggunakan parfum berlebihan," ujar Shoenfeld.

Analisis tersebut diperoleh dari percobaan terhadap tikus yang merupakan model yang cukup baik untuk mempelajari fungsi organ dan otak manusia. Shoenfeld dan koleganya menyuntikkan autoantibodi ke tubuh tikus betina sampai mengelami depresi.

Selain gelisah, tikus tersebut ternyata kehilangan kemampuan mencium bau. Autoantibodi mematikan sel-sel kelenjar indera penciumannya. Lebih lanjut, tikus tak lagi mengandalkan moncongnya untuk mengendus makanan dan dalam beberapa hari kemudian berat badannya turun.

"Kehilangan berat badan adalah salah satu gejala pertama depresi pada pasien penderita penyakit autoimmune," ujar Shoenfeld. Jika Anda tidak dapat mencium bau, Anda akan malas makan karena Anda tidak menikmatinya. Jika Anda malas makan, dipastikan Anda kehilangan berat badan.

Namun, apakah hubungan depresi dan kehilangan kemampuan mencium bau hanya terbatas pada penderita penyakit autoimmune? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para dokter termasuk dirinya harus lebih fokus meneliti lebih dalam hubungan antara kemampuan indera penciuman dengan kesehatan.

Sebagai catatan, depresi bekerja sama saja baik pada orang yang menderita penyakit tersebut maupun yang tidak. Hasil penelitian Shoenfeld mungkin juga dapat menjelaskan mengapa pria juga seringkali menggunakan parfum secara berlebihan.

Jadi, coba tanyakan teman-teman apakah bau parfum yang Anda gunakan terlalu menusuk?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau