Gegerkan bekasi trade center

Kepala Bocah Korban Mutilasi Masih Dicari

Kompas.com - 15/01/2008, 07:56 WIB

BEKASI, WARTA KOTA - Pengunjung Bekasi Trade Center (BTC), Margahayu, Bekasi Timur, Senin (14/1) sore digemparkan dengan penemuan bocah laki-laki korban mutilasi. Tubuh korban, tanpa kepala, yang terdiri atas empat potongan tersebut diwadahi di kardus warna cokelat dan teronggok di pinggir jalan di seberang BTC.

Para pedagang di seberang BTC tak tahu persis sejak kapan kardus tersebut diletakkan di tempat itu. Pasalnya, lokasi kardus berisi mayat itu merupakan kawasan yang ramai dan juga tempat naik turunnya penumpang angkutan umum. Di lokasi tersebut banyak orang yang menenteng kardus, misalnya orang yang baru membeli barang elektronik.

Hasil pemeriksaan di RSUD Bekasi menunjukkan, isi kardus itu adalah tubuh bocah berusia antara 9-12 tahun yang telah dipotong-potong. Potongan-potongan tersebut terdiri atas bagian leher hingga pinggang, pinggang hingga lutut, dan sepasang potongan betis hingga telapak kaki. Di dalam kardus itu juga terdapat baju bertuliskan Tae Kwon Do Jawa Tengah. 

Sementara itu, sejumlah pedagang memastikan bahwa sejak pagi hingga siang, kardus itu tak ada di sana. Mereka justru memerkirakan, kardus itu ada di lokasi tersebut sejak setengah jam sebelum diketahui bahwa isi kardus adalah mayat manusia. 

Bewok, pedagang asongan, yang memeriksa kardus itu menyatakan dirinya tak melihat secara jelas kondisi mayat di dalam kardus itu. Dia hanya melihat telapak kaki manusia dari celah pada tutup kardus. Bewok tak berani memeriksa lebih lanjut namun justru memberi tahu kawan-kawannya. Dalam waktu singkat, massa berkerumun di lokasi itu sehingga terjadi kemacetan luar biasa.

Lewat celah pada penutup kardus, polisi yang datang ke lokasi kejadian memastikan bahwa isi kardus itu memang benar mayat manusia. Tanpa membuka kardus bekas wadah air mineral ukuran botol 1 liter tersebut, polisi mengangkat dan membawanya ke RSUD Bekasi. Pemeriksaan lebih teliti atas isi kardus itu dilakukan di rumah sakit.

Menurut seorang penyidik Polrestro Bekasi, isi kardus itu adalah tubuh bocah berusia antara 9-12 tahun dan tinggi sekitar 130 cm. Potongan-potongan tubuh di kardus itu di antaranya adalah pangkal leher hingga pinggang dan pinggang hingga lutut. Sedangkan potongan tubuhnya lainnya adalah sepasang kaki mulai telapak kaki hingga lutut. "Potongan-potongan tubuh itu diduga kuat berasal dari satu tubuh, dengan kata lain isi kardus itu hanya satu mayat," katanya.

Petugas tersebut menambahkan, diperkirakan, setelah dipotong-potong tubuh korban dicuci lebih dulu sebelum dimasukkan ke kardus. Dugaan ini didasarkan pada kondisi mayat yang bersih dan tidak adanya ceceran darah dalam jumlah banyak. Selain itu, posisi tangan korban yang bersilang di dada sepertinya memang telah diatur oleh si pelaku.

Kepala Polrestro Bekasi, Kombes Mas Guntur Laope, mengatakan hingga semalam pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut termasuk mencari kepala bocah malang itu. Polisi juga berupaya menemukan keluarga korban mutilasi tersebut agar kasusnya bisa segera terungkap. "Kami mengimbau warga yang kehilangan anggota keluarganya, terutama anak laki-laki usia antara sembilan hingga 12 tahun, untuk segera melapor ke Polrestro Bekasi. Hingga saat ini kami masih terus menyelidiki kasus ini," ujar Mas Guntur.

Sementara itu, Tedi (32), pengasong, yang ditemui di lokasi kejadian mengatakan awalnya tak ada pedagang asongan yang memerhatikan kardus yang tergeletak di pinggir Jalan Joyomartono, persisnya di seberang BTC tersebut. Belakangan, Bewok, pedagang asongan, curiga dengan kardus itu dan segera memeriksanya. "Bewok belum sampai membuka kardus itu, dia baru mengintip dan melihat kaki manusia," kata Tedi. Dia menambahkan, "Para pengasong di sini lalu dikasih tahu ada mayat di dalam kardus. Akhirnya kami datang ke bawah pohon ini untuk melihatnya dan ternyata benar ada telapak kaki di dalam kardus tersebut. (mur)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau