SURABAYA, RABU - Masyarakat di lereng Gunung Kelud (1.731 mdpl) hingga kini masih tetap dilarang beraktivitas di sekitar puncak gunung tersebut, karena berbahaya.
Wakil Ketua Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kabupaten Blitar, Sukamtono, Rabu, mengatakan, kubah lava Gunung Kelud hingga kini terus tumbuh dan membesar, kubah itu mengeluarkan gas CO2 dan H2S.
Aktivitas Gunung Kelud yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang dan Blitar, Jatim itu, beberapa waktu lalu menunjukkan peningkatan dan dinyatakan dalam status "awas".
Namun, aktivitas Gunung Kelud kini sudah jauh menurun dan masih tetap dinyatakan dalam status "Waspada". Mengutip data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sukamtono yang juga Kabag Humas Pemkab Blitar itu mengungkapkan bahwa kubah lava Gunung Kelud setiap hari tumbuh antara 600-700 ribu meter kubik.
Ia mengakui bahwa pertumbuhan kubah lava Gunung Kelud hingga saat ini masih stabil. Penambahan volume kubah lava setiap detik antara 6-7 meter kubik atau 600-700 ribu meter kubik setiap harinya.
Ketinggian kubah lava Gunung Kelud saat ini mencapai 220 meter dengan diameter rata-rata 400 meter. Sementara aktivitas di dasar bumi hingga kini masih terjadi.
Berdasarkan pantauan tim PVMBG, hingga kini masih ada gempa-gempa di dalam yang setiap harinya masih cukup tinggi, antara 1.000-1.600 kali gempa.
Bahkan kubah lava terkadang longsor akibat tekanan dari dalam yang akhirnya mengembang, dan sesekali terpantau pula lava pijar muncul dari puncak Gunung Kelud.
Selain itu, gas CO2 masih muncul di atas kubah lava. Jika gas itu dihirup manusia dalam konsentrasi tinggi, bisa mengakibatkan pingsan.
Gas lainnya adalah H2S yang mengakibatkan tanaman di sekitar kawah Gunung Kelud yang sebelumnya tumbuh subur, kini mengering akibat panas yang di timbulkan dari gas tersebut.
Karena itu, masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas pada radius tiga kilometer dari puncak gunung, demikian Sukamtono. (ANT/ABI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang