Gunung Kelud Masih Berbahaya

Kompas.com - 16/01/2008, 11:50 WIB

SURABAYA, RABU - Masyarakat di lereng Gunung Kelud (1.731 mdpl) hingga kini masih tetap dilarang beraktivitas di sekitar puncak gunung tersebut, karena berbahaya.

Wakil Ketua Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kabupaten Blitar, Sukamtono, Rabu, mengatakan, kubah lava Gunung Kelud hingga kini terus tumbuh dan membesar, kubah itu mengeluarkan gas CO2 dan H2S.

Aktivitas Gunung Kelud yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang dan Blitar, Jatim itu, beberapa waktu lalu menunjukkan peningkatan dan dinyatakan dalam status "awas".

Namun, aktivitas Gunung Kelud kini sudah jauh menurun dan masih tetap dinyatakan dalam status "Waspada".  Mengutip data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sukamtono yang juga Kabag Humas Pemkab Blitar itu mengungkapkan bahwa kubah lava Gunung Kelud setiap hari tumbuh antara 600-700 ribu meter kubik.

Ia mengakui bahwa pertumbuhan kubah lava Gunung Kelud hingga saat ini masih stabil. Penambahan volume kubah lava setiap detik antara 6-7 meter kubik atau 600-700 ribu meter kubik setiap harinya.

Ketinggian kubah lava Gunung Kelud saat ini mencapai 220 meter dengan diameter rata-rata 400 meter. Sementara aktivitas di dasar bumi hingga kini masih terjadi.

Berdasarkan pantauan tim PVMBG, hingga kini masih ada gempa-gempa di dalam yang setiap harinya masih cukup tinggi, antara 1.000-1.600 kali gempa.

Bahkan kubah lava terkadang longsor akibat tekanan dari dalam yang akhirnya mengembang, dan sesekali terpantau pula lava pijar muncul dari puncak Gunung Kelud.

Selain itu, gas CO2 masih muncul di atas kubah lava. Jika gas itu dihirup manusia dalam konsentrasi tinggi, bisa mengakibatkan pingsan.

Gas lainnya adalah H2S yang mengakibatkan tanaman di sekitar kawah Gunung Kelud yang sebelumnya tumbuh subur, kini mengering akibat panas yang di timbulkan dari gas tersebut.

Karena itu, masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas pada radius tiga kilometer dari puncak gunung, demikian Sukamtono. (ANT/ABI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau