KEDIRI, RABU - PSSI kembali menahbiskan diri sebagai organisasi yang tak becus menggelar kompetisi sepak bola setelah kerusuhan yang disebabkan ulah penonton terjadi lagi saat laga antara Arema Malang meghadapi Persiwa Wamena pada laga babak delapan besar Liga Djarum Indonesia 2007 di Stadion Brawijaya, Kediri, Rabu (16/1).
Kerusuhan terjadi pada menit ke-71 saat asisten wasit II Sumarman dilempari Aremania dari tribun barat karena dianggap merugikan Arema setelah memutuskan bola dianggap keluar lapangan pertandingan saat dikuasai pemain-pemain Arema.
Seorang penonton yang membawa boneka singa tiba-tiba berlari dari arah tribun timur dan masuk ke lapangan serta memukul Sumarman tepat di rahangnya. Seperti efek domino, kontan saja tak kurang dari 15 ribu Aremania yang membanjiri stadion melakukan aksi pelemparan, termasuk pada para pemburu berita media elektronik yang tak berdaya di atas menara yang telah disediakan bagi mereka.
Aparat keamanan yang berjaga tak berdaya mengahdapi keberingasan Aremania yang terus mendesak hingga ke depan pintu gerbang utama. Aksi menguasai lapangan oleh Aremania terjadi sekitar dua puluh menit sebelum polisi bersenjata lengkap mulai merangsek.
Para perusuh melemparkan benda apa saja ke arah aparat keamanan. Kedua kubu bahkan berdiri berhadapan hadapan dalam jarak lima meter saja dengan sikap saling menantang. Suasana mencekam ditambah aksi pembakaran di depan gawang sebelah utara dan tribun bagian barat membuat para penonton yang murni ingin menyaksikan laga terpaksa tertahan pada sejumlah ruang-ruang kosong. Seorang penonton wanita Arema bahkan terlihat ketakutan dan memilih berdiam di tempatnya menonton semula sembari menunggu redanya suasana.
Sebelumnya, aksi pemukulan terhadap asisten wasit I Yuli Suratno dari arah belakang oleh Aremania yang tiba-tiba masuk ke dalam stadion terjadi di menit ke-36 yang mengakibatkan Yuli kolaps dan digantikan oleh Suhadi Yunus. Pemukulan itu disebabkan dua kali gol Arema oleh Patricio "Pato" Morales di menit ke-10 dan-35 dibatalkan wasit Jajat Sudrajat karena dianggap off side.
Akibat hal itu, laga dihentikan selama 17 menit sebelum dilanjutkan lagi. Pada menit ke-51, striker Arema Emilie B Mbamba mencetak gol yang lagi-lagi dianulir wasit. Kerusuhan pun tak terelakkan. Asisten Manajer Persiwa Jhon R Banua bahkan sempat mengeluarkan pistolnya demi meredakan aksi rusuh tersebut.
"Kita memang tidak bisa menangkap pelaku pemukulan pertama, karena akan timbul aksi yang lebih luas lagi," kata Kapolresta Kediri Putu Jayan DP. Ketua Panpel Kediri, Bambang Sumaryono menyebutkan ia masih bingung menentukan akibat peristiwa itu.
Manajer Arema Satrija Budi Wibawa menyebutkan ia heran dengan kejadian tersebut. "Saya tadi tanya pada asisten wasit, maunya apa dengan pertandingan ini. Kalau mereka memang mau rusuh, ya keinginan mereka sudah sukses. Saya sendiri belum tahu selanjutnya bagaimana, tak ada orang PSSi yang bisa menjelaskan," paparnya.
Laga itu sendiri sementara berakhir 2-1 bagi keunggulan Persiwa. Gol pertama Persiwa diciptakan Peter Rumaropen pada menit ke-28 dan gol kedua pada menit ke-65 juga oleh Rumaropen. Gol balasan Arema diciptakan Mbamba pada menit ke-67. (INK)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang