Ikohi: Sejak Kapan Amien Jadi Juru Bicara Soeharto?

Kompas.com - 17/01/2008, 17:02 WIB

JAKARTA, KAMIS - Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi) menyesalkan pernyataan Amien Rais pada Senin (14/1) yang memaafkan segala kesalahan mantan Presiden Soeharto.

Ketua Ikohi, Mugiyanto, Kamis (17/1), mengatakan, ucapan tersebut tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang mengaku sebagai salah satu tokoh reformasi. Ini berarti, Amien telah menggerus hak asasi para korban kekuasaan Soeharto.

"Aduh, itu gimana pernyataan Amien. Dia tidak konsisten dengan memaafkan Soeharto. Apalagi pake mengajak masyarakat memaafkan pula. Sejak kapan Amien menjadi juru bicara Soeharto?" ujar Mugiyanto, Kamis (17/1).

Menurut dia, saat ini pemerintah juga sedang melancarkan strategi politik yang Ikohi sebut sebagai 'politik pelupaan.' Beberapa oknum, lanjutnya, mencoba membuat masyarakat lupa dengan kejahatan Soeharto saat masih menjabat sebagai presiden RI.

"Daya ingat masyarakat Indonesia itu pendek dan hal itu dimanfaatkan oleh pemerintah dengan mengajaknya melupakan kejahatan Soeharto dan memaafkannya. Padahal, jasanya itu tidak sebanding dengan kejahatan yang telah diperbuat. Dia bukan bapak pembangunan, tapi dia bapak pembunuhan," tandasnya.

Menurut dia, masa lalu tidak untuk dilupakan. Namun, masa lalu harus diingat untuk pembelajaran agar tidak ada lagi kejadian pelanggaran HAM pada tahun mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau