Gizi Buruk Sebabkan 3,5 Juta Kematian Anak per Tahun

Kompas.com - 17/01/2008, 17:51 WIB

LONDON, KAMIS - Gizi buruk ternyata masih menjadi masalah global. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal setiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan.  Masalah kurang gizi ini dialami anak-anak sejak masih dalam kandungan.

Seperti dilaporkan jurnal  The Lancet, mayoritas kasus anak-anak serta ibu hamil yang kekurangan gizi terdapat di  20 negara kawasan Afrika dan Asia. Namun begitu, 25 persen dari kematian ini dapat dicegah melalui pencegahan sederhana seperti memberi ASI dan pemberian suplemen vitamin A.

Laporan khusus dalam The Lancet juga menyebutkan bahwa kasus gizi buruk pada bayi dapat menimbulkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki saat mereka beranjak dewasa. Anak-anak yang tengah menderita kurang gizi cenderung memiliki postur tubuh yang lebih pendek dan tidak berprestasi saat sekolah. Kenyataan ini jelas dapat menurunkan potensi ekonomi dan justru mengekalkan lingkaran kemiskinan.

Sebuah riset yang dilakukan secara terpisah telah memberi bukti meyakinkan untuk beberapa ukuran yang mungkin dapat memberi dampak besar dalam menurunkan tingkat kematian jika diimplementasikan dengan tepat. Menurut riset tersebut, pemberian suplemen Vitamin A dan seng serta menganjurkan wanita untuk memberi ASI setidaknya pada enam bulan pertama dapat menurunkan angka kematian dan kecacatan hingga 25 persen. 

Namun menurut para ahli,  respons dunia internasional terhadap kematian anak akibat gizi buruk telah "terpecah dan disfungsional".

Beberapa anak meninggal karena mereka memang tidak mendapatkan makanan yang cukup. Namun isu ini menjadi kompleks untuk anak-anak yang menderita gangguan pertumbuhan dan penyakit yang berhubungan dengan defisiensi  beberapa vitamin dan mineral penting.

Masalah ini dapat diperburuk dengan sanitasi kotor yang menyebabkan penyebaran penyakit infeksi. Profesor Zulfiqar Bhutta, dari Departmen Pediatric dan Kesehatan Anak di Universitas Aga Khan, Pakistan, memperkirakan  sekitar 1,4 juta anak meninggal tiap tahun akibat kurang mendapat ASI. Menurutnya, di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia kurang dari sepertiga anak di bawah usia  enam buoan mendapat ASI secara ekslusif .

Dr Bruce Cogill ahli nutrisi dari Badan PBB Unicef mengatakan isu global tentang gizi buruk saat ini merupakan problem yang harus segera diatasi. Namun sayangnya,  program nutrisi ironisnya masih kurang ditangani serius ketimbang isu kesehatan global lainnya seperti AIDS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau