PALANGKARAYA, KAMIS - Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, menggandeng pelaku industri turut menghijaukan hutan di kawasn tersebut. Misalnya dari perusahaan penerbangan nasional, Garuda Indonesia, yang berkomitmen menghijaukan kembali areal hutan kritis di kawasan konservasi itu.
"Garuda Indonesia bersedia mereboisasi hutan kritis seluas 250 hektar di Sebangau dengan menanam jenis-jenis tanaman lokal setempat. Program ini kami harap dapat dimulai bulan depan," kata Kepala Balai Taman Nasional Sebangau, Drasospolino, di Palangka Raya, Kamis (17/1).
Menurut Ino, sapaan Drasospolino, upaya reboisasi itu merupakan yang pertama kali dilakukan pihak swasta dalam membantu menutup vegetasi TNS yang mengalami kerusakan. Penghijauan yang dilakukan Garuda itu juga akan didukung oleh pihak ketiga dari World Wildlife Fund (WWF) dengan menanam sekitar 100 ribu batang pohon, dari jenis jelutung, dan meranti.
Berbagai pihak, baik pemerintah daerah, swasta, LSM, NGO, ataupun lembaga independen lain, kata Ino, diperbolehkan turut membantu dalam upaya rehabilitasi hutan sesuai Permenhut p.8205/kpts-II/2002 tentang pedoman rehabilitasi di kawasan taman nasional.
"Upaya penanaman ribuan pohon sendiri akan melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Sebangau," jelasnya. Ino mencatat, sekitar 52 ribu hektar hutan di kawasan TNS yang totalnya seluas 578 ribu hektar berada dalam kondisi kritis, sebagian besar akibat penebangan liar dan kebakaran hutan.
Rehabilitasi kawasan hutan kritis sebelumnya juga sempat dilakukan dengan menggandeng Dinas Kehutanan Kabupaten Pulang Pisau dan berhasil mengembalikan hutan seluas 400 hektar di tahun 2005 dan 2006 lalu. Ino mengakui, upaya rehabilitasi itu masih dilakukan setahap demi setahap kendati areal kritisnya masih tersisa begitu luas.
"Setidaknya kami juga mengupayakan agar ekosistem alam sekitar tetap terjaga sehingga terjadi pula pemulihan hutan secara alami yang biasanya membutuhkan waktu hingga 10 tahun," tambahnya. Sejumlah pihak lain, semacam WWF dan Central Kalimantan Peatlands Project sebelumnya telah ikut membantu melakukan restorasi kawasan dengan membangun tabat-tabat pada aliran air setempat.
Tujuan utama penabatan adalah menjaga fungsi hidrologi kawasan hutan di Sebangau, yang sekitar 90 persen merupakan areal hutan rawa gambut.(ANT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang