CRT, Alat Penyinkron Jantung, Penyelamat Soeharto

Kompas.com - 19/01/2008, 18:19 WIB

CRT (cardiac resynchronization therapy) tiba-tiba menjadi akrab di telinga kita setelah berbagai media massa ramai memberitakan keadaan kesehatan mantan Presiden Soeharto yang dianggap memerlukan pemasangan CRT. Tulisan ini mengulas apa sebenarnya CRT, apa indikasi penggunaannya, bagaimana cara pemasangannya, dan betulkah ia bermanfaat?

Fungsi utama jantung adalah memompa darah yang mengandung zat makanan dan oksigen ke seluruh tubuh. Kemampuan pompa jantung diukur dengan parameter fraksi ejeksi yang diketahui dengan pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung). Nilai normal fraksi ejeksi adalah $> 52 persen dan bila terjadi penurunan fraksi ejeksi, dapat terjadi gagal jantung (GJ).

Kelemahan pada otot jantung dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satu yang paling sering adalah akibat serangan jantung, penyakit jantung koroner, hipertensi yang tidak terkontrol, penyakit katup jantung, dan kelainan primer pada otot-otot jantung.

GJ merupakan suatu kondisi medis yang sering terjadi dan bersifat serius. Diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta penderita GJ di dunia dan semakin meningkat dengan makin bertambahnya harapan hidup serta makin majunya tata laksana berbagai penyakit penyebab GJ.

Pada keadaan yang ringan penderita GJ mengeluh sesak jika beraktivitas, kemudian dengan makin beratnya penyakit keluhan sesak sering timbul pada waktu berbaring, bahkan sering pasien mengeluh terbangun tiba-tiba saat tidur karena merasa seperti mau tenggelam.

Untuk mengurangi sesaknya, pasien berusaha untuk selalu meninggikan kepala pada saat tidur dengan memakai bantal yang lebih banyak. Tidak jarang pasien mengeluh terbatuk-batuk jika tidur.

Gejala lain yang cukup sering didapatkan adalah bengkak pada kaki. Sebuah survei di Eropa menemukan bahwa sekalipun hampir 90 persen dari 8.000 orang responden tahu atau pernah mendengar soal GJ, tetapi hanya 3 persen yang mengetahui gejala-gejala GJ. Bukan itu saja, bahkan mereka juga memiliki konsepsi yang keliru tentang GJ.

Bayangkan jika di negara maju saja tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang GJ begitu rendah, bagaimana di negara kita. Padahal, GJ adalah keadaan yang membawa implikasi begitu luas, yaitu penderitaan yang panjang, kerapnya rawat inap, kualitas hidup yang rendah, tidak produktif, dan kematian. Oleh karena itu, perlu sosialisasi GJ karena pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan mengarah pada tata laksana GJ yang lebih baik.

Tata laksana GJ

Saat ini obat-obatan masih merupakan terapi primer untuk GJ. Biasanya penderita GJ membutuhkan lebih dari tiga obat untuk memperbaiki fungsi jantung. Dalam berbagai uji klinik, obat-obat itu secara signifikan memperbaiki gejala, menurunkan kekerapan rawat inap, meningkatkan fraksi ejeksi, dan bahkan mengurangi mortalitas. Akan tetapi, secara keseluruhan harapan hidup penderita GJ belum menggembirakan.

Transplantasi jantung menjadi jalan terakhir tata laksana GJ pada pasien dengan kondisi jantung sangat parah dan tidak respons lagi terhadap obat. Akan tetapi, program transplantasi jantung di banyak negara kawasan Asia Pasifik tidak bertahan lama karena kesulitan mendapatkan donor, biaya yang sangat mahal, dan perawatan pascatransplantasi yang tidak mudah.

Belum lama ini para ahli mendapatkan bahwa pada hampir 40 persen penderita GJ berat terjadi perubahan-perubahan sistem listrik jantung, yang disebut electrical remodeling. Perubahan itu mengakibatkan penurunan lebih lanjut kemampuan jantung memompa darah karena ruang-ruang jantung tidak sinkron dalam memompa darah (disinkroni mekanik).

Sayang sekali, obat-obat GJ yang ada tidak satu pun yang dapat memperbaiki electrical remodeling, padahal diyakini bahwa restorasi electrical remodeling akan menyumbangkan perbaikan yang signifikan pada GJ.

Seputar CRT

Belajar dari mekanisme perbaikan sistem listrik pada pemakai alat pacu jantung, saat ini telah dikembangkan yang dapat mengembalikan sinkronisasi jantung. Alat pacu jantung khusus itu disebut CRT. Pada CRT lokasi pemacuan adalah kedua bilik dan serambi jantung.

CRT terdiri dari dua komponen, yaitu generator dan tiga buah elektrode (Gambar 1 dan 2). Generator disimpan di bawah kulit dada atas, sedangkan ketiga elektrodenya masuk ke serambi dan dua bilik jantung melalui pembuluh balik. Umumnya hanya diperlukan operasi kecil dengan bius lokal untuk pemasangan CRT.

Mekanisme resinkronisasi jantung oleh CRT adalah dengan mengatur timing aktivasi listrik pada lokasi pemacuan di berbagai ruang jantung sehingga menghasilkan pemompaan darah yang efektif. Berbagai penelitian besar mengenai efektivitas CRT sudah dilakukan pada lebih dari 4.000 orang pasien.

Pada penelitian Care-HF (cardiac resynchronization-Heart Failure) dilakukan pengamatan rata-rata 30 bulan pada lebih dari 800 orang GJ berat yang dipasang CRT. Didapatkan penurunan angka kematian sebesar 36 persen dan penurunan rawat inap karena perburukan GJ sebesar 46 persen dibandingkan dengan pasien tanpa CRT.

Di samping itu, terbukti bahwa penerima CRT memiliki kualitas hidup yang lebih baik, mengalami gejala GJ yang lebih ringan, fraksi ejeksi menjadi lebih baik, dan kemampuan aktivitas fisiknya meningkat. Hasil studi ini makin menguatkan hasil-hasil penelitian yang sudah ada sebelumnya.

Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, hingga saat ini telah dilakukan pemasangan 42 buah CRT dengan hasil yang sangat baik. Pemilihan pasien sebagai kandidat CRT harus dilakukan dengan saksama, agar alat yang harganya mahal ini betul-betul dipasang pada pasien yang tepat dan berhasil guna. Hal itu perlu dilakukan agar kejadian nonresponder pada pemasangan CRT dapat dihindari.

Panduan terbaru mengindikasikan CRT untuk GJ yang berat walaupun sudah diobati maksimal, fraksi ejeksi yang buruk 35 persen, diameter bilik kiri 30 mm, lebar kompleks QRS pada EKG 120 mm. Adanya tanda-tanda disinkroni mekanik pada pemeriksaan ekokardiografi merupakan kriteria tambahan yang penting untuk pemasangan CRT. Jika indikasi tepat, lebih dari 36 persen kematian akibat gagal jantung dapat dihindari.

Bayangkan berapa banyak manusia dapat diselamatkan dengan perantaraan CRT pada populasi GJ yang mencapai 20 juta orang lebih?

Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP Bekerja di Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau