2008, Pasar Saham Indonesia Masih Menarik

Kompas.com - 21/01/2008, 10:54 WIB

JAKARTA, SENIN - Pasar saham di Indonesia selama 2008 diperkirakan masih akan berkembang dengan baik sehingga menjadi daya tarik bagi investor finansial untuk masuk ke Indonesia. Ekonom Citibank, Anton Gunawan di Jakarta, Senin (21/1) mengatakan, dengan pengembalian hasil yang lebih menarik dibanding dengan pasar-pasar berkembang lainnya, diperkirakan pasar saham akan kembali mengalami "rally" pada 2008, seiiring dengan masuknya arus modal ke dalam negeri di tengah volatilitas pasar yang semakin tinggi.

Menurut Anton, harga ekuitas, yang sudah tumbuh sekitar 50 persen pada 2007, kemungkinan akan terus tumbuh dengan prospek ekonomi yang lebih baik. Namun, Anton menegaskan bahwa seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin siap untuk bergerak maju, sikap waspada tetap menjadi hal yang penting terutama dalam menghadapi risiko-risiko yang muncul, baik di dalam dan di luar negeri.

Selain akan mengalami hal positif pada pasar saham, Indonesia diprediksi akan mengalami beberapa kendala, yakni inflasi, penurunan produksi minyak, krisis listrik, dan melemahnya nilai nominal mata uang rupiah. "Kendala pertama yaitu terjadinya tekanan inflasi yang lebih tinggi yang disebabkan oleh terbatasnya suplai, tingginya harga makanan, dan harga enerji di tahun 2008," katanya.

Menurut dia, memang pemerintah telah berjanji untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi. Namun, bila terdapat kenaikan pada harga BBM tidak bersubsidi, hal ini akan memberi efek negatif terhadap kinerja sektor manufaktur yang tumbuh hanya lima  persen bila dibandingkan dengan pertumbuhan dua digit pada masa sebelum krisis. Karena itu Anton menganggap perlunya Bank Indonesia (BI) untuk memperketat kebijaksanaan moneternya, bila tidak ingin melihat beralihnya arus dana ke luar negeri. 

Kendala kedua yang diprediksi akan terjadi adalah produksi minyak yang menurun dan ditambah dengan meningkatnya kebutuhan BBM bersubsidi. "Kedua hal ini akan memperberat posisi fiskal pemerintah," katanya.

Asumsi produksi minyak pemerintah pada 2008 yang sebesar 1,034 juta barrel per hari tidak terlihat optimis untuk bisa dicapai. Memburuknya posisi fiskal juga dapat membuat pemerintah mengambil langkah yang tidak populer dengan menaikan harga BBM bersubsidi dan harga listrik.  Tentunya itu dapat mendorong naiknya inflasi dan menuju kebijaksaan finansial yang ketat. Efek dari itu mungkin tidak sebesar pada 2005, tapi tetap saja bisa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi.

Anton mengatakan bahwa selain dua kendala di atas, Indonesia sepertinya mendekati krisis listrik yang serius, sebagaimana krisis yang terjadi pada Mei 2007, dimana terdapat 94 lokasi krisis listrik di luar sistem Jawa-Bali-Madura.

Krisis ini terjadi akibat lambatnya pembangunan pembangkit listrik baru yang diperkirakan sebagian besar baru akan siap pada 2010, sementara hanya beberapa saja yang dapat siap di akhir 2009. Ini berarti dalam waktu satu atau dua tahun ke depan beberapa daerah dan industri harus menghadapi pemadaman.

Pengiriman bahan pokok pembangkit listrik seperti batu bara, diesel, dan gas alam yang tersendat-sendat membuat situasi ini semakin parah. "Kendala terakhir adalah kemungkinan melemahnya nilai nominal mata uang, namun terjadi penguatan pada nilai rillnya seiring dengan membaiknya aktifitas ekonomi dan terus tingginya harga minyak di tahun depan. Ketidakpastian hukum akan terus berlanjut menghantui stabilitas institusi dan pasar finansial," ungkap Anton.

Menurut dia, prospek ekonomi fundamental yang lebih baik akan membantu kestabilan prospek kredit dan mata uang. Dalam dua tahun ke depan, pihaknya memperkirakan Indonesia akan memperoleh rating kredit yang lebih baik. (ANTARA/GLO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau