Gunung Api di Bawah Es Antartika Pernah Meletus

Kompas.com - 21/01/2008, 13:48 WIB

PARIS, SENIN - Gunung berapi yang ditemukan di bawah lapisan es Antartika pernah meletus sangat dahsyat sekitar 2000 tahun yang lalu. Aktivitas vulkanik gunung tersebut mungkin masih berlangsung sehingga ikut mempercepat pelelahan lapisan es di kutub selatan saat ini.

Bukti-bukti terjadinya ledakan ditemukan dari hasil survei geofisika udara yang dilakukan para peneliti dari British Antartic Survei (BAS) tahun 2004-2005. Survei tersebut  menggunakan radar yang memetakan seluruh wilayah Antartika dari permukaan hingga ke bawah lapisan es.

Hasil pengukuran menunjukkan daerah anomali yang berbeda dari sekelilingnya seluas 23.000 kilometer persegi. Para peneliti yakin daerah tersebut merupakan lapisan debu, batuan, dan kaca yang berasal dari semburan gunung berapi.

Volume material tersebut mencapai 0,31 kilometer kubik sehingga diperkirakan berasal dari ledakan gunung api dengan kekuatan antara tiga hingga empat skala VEI (Volcanic Explosive Index). Sebagai perbandingan, letusan Gunung St Helen tahun 1980 sekitar 5 VEI dan Gunung Pinatubo, Filipina tahun 1991 berkekuatan 6 VEI.

"Kami yakin ini letusan terbesar di Antartika sepanjang 10.000 tahun terakhir," kata Hugh Corr dari BAS. Peristiwa ledakan vulkanik yang tergolong sangat kuat (cataclysmic) itu mungkin melubangi lapisan es dalam jangkauan yang sangat luas dan memuntahkan abu hingga ketinggian 12 kilometer.   

Gunung yang meletus terletak di Pegunungan Hudsons, berada dekat pulau es raksasa Pine yang saat ini mengalami pelelahan sangat cepat.

"Mungkin panas dari gunung yang menyebabkan percepatan pelelahan tersebut," ujar Profesor David Vaughan dari BAS. Namun, menurutnya, panas vulkanik saja tak cukup dan dampak pemanasan global merupakan penyebab utama pelelahan secepat itu.  

Aktivitas seismik di wilayah kutub selatan secara umum sebenarnya stabil. Namun, di bagian barat benua Antartika para peneliti menemukan patahan di kerak Bumi yang sesekali memicu pelapasan panas dari aktivitas vulkanik dan panas geotermal yang terasa di tepian benua. Lelehan lapisan es di Antartika Barat berkontribusi menaikkan muka air laut hingga 0,22 milimeter setiap tahun.(AFP/WAH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau