Pria Lebih Rentan Terkena Kanker Hati

Kompas.com - 23/01/2008, 09:54 WIB

JAKARTA, SELASA - Perbedaan sangat mendasar ditunjukkan tubuh pria dan wanita terhadap resiko terkena kanker hati, dan penyebabnya terletak pada unsur genetik berdasarkan gender, demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan para ahli di Institut Teknologi Massachusetts (MIT).

Ini adalah kajian genome pertama yang menjelaskan kaitan antara gender dan kanker non-organ reproduksi, kata Arlin Rogers, pakar patologi dan ketua tim peneliti MIT. Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Cancer Research, pria berpotensi terkena kanker hati dua kali lebih besar daripada wanita di Amerika Serikat. Di negara lain, terutama Asia, angka potensi ini bisa lebih tinggi, yakni 8-10 kali lipat lebih besar.

Kanker hati adalah jenis kanker tersering nomor 5 di dunia, dan penyebab kematian urutan ke-3 terbesar. Angka kanker hati di Amerika lebih rendah daripada di negara-negara lain, tapi trennya menunjukkan peningkatan yang drastis akibat infeksi hepatitis C lewat transfusi darah yang terus melonjak sejak 1970-an dan tentunya penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Faktor lain yang memicu angka kanker hati adalah masalah obesitas dan diabetes, yang terus menjadi perhatian pemerintah. Rogers menjelaskan bahwa hati laki-laki dan perempuan punya perbedaan yang cukup kentara.

Perbedaan ini sangat jelas terlihat semasa periode pubertas, yakni ketika organ hati pria lebih terekspos pertumbuhan hormon. Hal ini kemudian menyebabkan organ hati pria dan perempuan menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap antibiotik dan obat-obatan serupa.
   
Dalam penelitiannya, para ilmuwan  MIT mengkaji tikus yang juga punya tren lebih tinggi mengalami kanker hati pada jenis kelamin pria dibandingkan dengan yang perempuan. Tikus itu kemudian disuntikkan bakteri hepatitis - yang memproduksi gejala hepatitis yang sama dengan karakter hepatitis B dan C pada manusia.

Baik pada manusia dan tikus, pria dan wanita yang sehat bisa menunjukkan reaksi terhadap racun akut dan tekanan-tekanan lain. Tapi organ hati pria ternyata tidak selengkap organ hati wanita untuk menghadapi peradangan kronis yang muncul akibat infeksi zat-zat tertentu.
   
Ketika tikus jantan menghadapi hepatitis kronis, sebagian gen maskulin di hati ditingkatkan kerjanya,  sebagian lain gen dihentikan aktifitasnya. Pada saat bersamaan, sebagian gen feminin diaktifkan ulang. Akibat hal ini, para peneliti mencatat bahwa profil gen kemudian menjadi tidak jelas, istilahnya "kekacauan gender-hati" .

"Tidak ada alasan atau pola. Cuma memang kacau saja antara gen maskulin dengan gen feminin," kata Rogers.
   
Masih menurut hasil kajian para ahli, gen berdasarkan jenis kelamin ternyata menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap radang infeksi. Gen laki-laki saat berhadapan dengan hepatitis kronis bereaksi sebagian kelebihan beban, sebagian lainnya kekurangan beban, sehingga organ hati tidak bisa mempertahankan fungsi metabolisme yang normal saat kanker muncul.

Sementara itu perempuan dewasa relatif lebih rendah potensi terkena kanker hati, karena gen di organ hati tidak merasa perlu berganti menjadi gen maskulin untuk menghadapi kanker, demikian Rogers.

WHO memperkirakan ada lebih dari 180 juta orang di dunia telah terinfeksi hepatitis C, dan lebih dari 400 juta orang lainnya hidup dengan hepatitis B. Bahkan beberapa pakar kesehatan mengatakan virus hepatitis 100 kali lebih mudah menular dibandingkan dengan HIV. Yang paling ditakuti dari penyakit ini adalah potensi berkembangnya penyakit ini menjadi kanker hati atau sirosis yang dapat berakhir pada kegagalan fungsi hati dan mengakibatkan kematian.

Jika dirunut berdasarkan jumlah angka kematian pasien, sirosis menempati posisi ketujuh sebagai penyakit kronis yang mematikan. Oleh karena itu kewaspadaan akan penyakit ini menjadi hal penting, mengingat penularannya kadang tidak disadari oleh pasien.

Apalagi faktor penyebaran virus di Indonesia berkembang sangat cepat yang salah satunya dipengaruhi oleh ketidaktahuan masyarakat ada tidaknya virus hepatitis yang diidap dirinya.  Padahal, 25 persen di antara pengidap yang tidak tahu ini berpotensi menderita sirosis setelah rentang waktu 15-20 tahun virus bersarang di tubuh mereka.

Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Unggul Budihusodo, beberapa pola penyebaran virus hepatitis terjadi di antaranya melalui jarum tindik, alat narkotika, hubungan berisiko, tato, dan tranfusi darah.

"Pada tahun 2000 disebutkan penularan melalui suntikan putaw mengontribusi 80 persen perkembangan penularan hepatitis, bahkan polanya sangat cepat," ujar Unggul.

Laporan buletin mingguan WHO 2000 menyebutkan di dunia terdapat setidaknya 170 juta pasien terinfeksi virus hepatitis, dengan perkirakan 315.000 kasus baru muncul setiap tahun. Sementara itu, di Indonesia tercatat tujuh juta penderita hepatitis ditemukan. Dari jumlah ini prosentase pengidap hepatitis kronik sebesar 16-77 persen, sirosis hati sebesar 22-78 persen, dan karsinoma hati (kanker hati primer) 29-69 persen.

Unggul menyebutkan bahwa sebanyak 1-4 persen jumlah total pasien sirosis akan berkembang terkena kanker hati setiap tahun. Sebagian kecil dari mereka mengalami perkembangan penyakit yang sangat cepat sehingga memerlukan tindakan transplantasi.

Selain berdampak pada kematian bagi penderita kanker hati, semakin banyaknya jumlah pasien penderita hepatitis akan memberikan dampak penurunan produktivitas kerja pasien, yang artinya akan berdampak pula pada kerugian secara ekonomi.    Penelitian para ahli hepatitis di Amerika Serikat menyebutkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat virus hepatitis mencapai 600 juta dolar Amerika setiap tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau