BANJARMASIN, KAMIS - Unit Pemasaran VI Cabang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur kini menyelidiki kelangkaan gas elpiji untuk rumah tangga di beberapa daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini dilakukan karena diduga salah satu penyebabnya akibat aksi borong oleh kalangan industri terhadap gas elpiji berukuran 12 kilogram tersebut.
Tjik Wan, Kepala Bidang Humas Pertamina Cabang Kalsel dan Kalteng di Banjarmasin, Kamis (24/1), mengatakan, terjadi kelangkaan elpiji untuk rumah tangga di beberapa daerah di dua provinsi ini terjadi diluar kebiasaan. Sebab, pasokan gas elpiji cukup tersedia. Namun, terjadi kekosongan pada beberapa daerah.
Salah satu sebabnya, ungkapnya, adalah dampak kenaikan harga gas elpiji untuk ukuran 50 kilogram. Harga elpiji tersebut sebelumnya Rp 375.000 per tabung, kini naik Rp 100.000 menjadi Rp 475.000 per tabung. “Kami menduga telah terjadi aksi borong gas elpiji rumah tangga dilakukan kalangan industri yang tidak mampu lagi membeli elpiji 50 kilogram,” katanya.
Menurut Tjin Wan, dari hasil penyelidikan ini nantinya akan diambil langkah-langkah untuk mengatasi kekosongan gas elpiji pada beberapa daerah di Kalsel dan Kalteng. Saat ini harga elpiji rumah tangga pada tingkat agen di Banjarmasin masih Rp 64.000 per tabung dan di Kalteng Rp 65.000 per tabung.
Pemantauan di Banjarmasin, harga elpiji rumah tangga pada tingkat eceran mencapai Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per tabung. Sementara di Palangkaraya, harganya berkisar Rp 85.000 hinga Rp 90.000 per tabung. “Dalam beberapa hari terakhir memang terjadi peningkatan penjualan elpiji rumah tangga, yakni dari 40 tabung per hari menjadi 50 tabng per hari. Sementara gas elpiji untuk industri mengalami penurunan,” kata Bandi, petugas dialer elpiji PT Bara Angin Sakti, Banjarmasin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang