2,5 Juta Warga Afganistan Terancam Krisis Pangan

Kompas.com - 24/01/2008, 17:59 WIB

KABUL, KAMIS - Harga gandum global yang meningkat tajam telah mengakibatkan harga gandum di Afganistan melonjak hingga 58 persen dalam setahun terakhir. Kenyataan ini menekan daya beli ratusan ribu keluarga di Afganistan untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Afganistan mengajukan ke negara-negara donor bantuan senilai lebih dari 81 juta dolar AS untuk membantu kebutuhan pangan 2,5 juta penduduk berekonomi lemah yang terkena imbas lonjakan harga gandum.

Roti merupakan makanan pokok bagi mayoritas penduduk Afganistan dan gandum adalah produk pangan terpenting di negara perekonomian domestik tersebut.   

"Kenaikan harga kebutuhan pokok yang drastis seperti tepung gandum berimbas ke meningkatnya resiko kelaparan mengingat semakin banyak keluarga di Pakistan yang tidak dapat menjangkau daya beli untuk memenuhi kebutuhan pangannya," jelas PBB dalam suatu pernyataannya.
   
Permohonan bantuan bagi kebutuhan pangan ini ditujukan untuk menopang lebih 2,5 juta penduduk Afganistan,yang berisiko kekurangan bahan pangan di wilayah pedalaman dan urban, hingga 5 bulan mendatang sampai datangnya musim panen. Afganistan merupakah salah satu negara termiskin di dunia dan sangat bergantung pada bantuan asing.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau