YERUSALEM, KAMIS - Israel ingin memutus seluruh hubungan tanggung jawab terhadap Jalur Gaza yang dikuasai milisi Hamas. Keputusan ini dipertimbangkan setelah milisi Hamas melakukan aksi pemboman Rabu (23/1) sehingga merusak tembok perbatasan di selatan Gaza.
Ledakan bom di kota Rafah, yang dijaga oleh pasukan Mesir dan menghancurkan tembok perbatasan ini, mengakibatkan puluhan ribu penduduk Palestina menembus perbatasan tersebut untuk menimbun kebutuhan pokok yang terus menipis di Gaza.Pemboman tersebut dilakukan milisi Hamas untuk menentang pemblokadean Israel di Gaza.
Israel, yang menduduki Jalur Gaza pada tahun 1967, menarik pasukan dan pemukimnya dari wilayah tersebut pada 2005. Namun demikian, Israel masih memegang kekuasaan terhadap perbatasan di sebelah utara dan timur Jalur Gaza, termasuk zona udara dan perairannya.
Deputi Menteri Pertahanan Israel Matan Vilnai menjelaskan keinginan Israel untuk menyerahkan seluruh tanggungjawabnya di wilayah Gaza dengan menyerahkan suplai listrik, air dan obat-obatan ke negara lain. Seorang pejabat keamanan Israel menjelaskan seharusnya tanggungjawab ini diambil alih oleh Mesir. "Kita perlu memahami bahwa saat Gaza diserahkan ke negara lain maka Israel tidak perlu bertanggungjawab terhadap Gaza," jelas Vinai.
Sementara seorang juru bicara Hamas menjelaskan Israel tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya karena Jalur Gaza masih merupakan wilayah pendudukan Israel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang