ROMA, JUMAT - Presiden Italia Giorgio Napolitano mencoba menghalangi mundurnya Perdana Menteri Romano Prodi dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah tokoh politik.
Napolitano, mulai Jumat (25/1) siang, bergerilya dari satu tokoh ke tokoh politik lain, seperti para pemimpin senat dan majelis rendah, dalam upayanya mengembalian Prodi ke posisi kepala pemerintahan.
Kubu Prodi (68) melemah ketika Partai Katolik UDEUR yang membelot dan berbalik melawannya. Ia kemudian memilih mundur meski sudah dihalangi sejumlah pemimpin termasuk Napolitano. Prodi memutuskan mundur ketika ia yakin bakal kalah dalam pemungutan suara terhadap mosi tidak percaya senat. Meski ada perubahan sikap mendadak dari para penentangnya, seperti tiga senator dan lima senator seumur hidup, Prodi akhirnya tetap kalah.
Napolitano, setelah berkonsultasi dengan para pemimpin partai dan parlemen, bisa memilih antara menggelar pemilihan umum baru atau menetapkan pemerintahan transisi. Tampaknya Napolitano akan memilih membentuk pemerintahan sementara yang tugasnya antara lain menyelesaikan reformasi undang-undang pemilu.
Namun kelompok oposisi sayap kanan selama ini menuntut pemilu baru sejak krisis politik yang meletup saat menteri kehakiman Clemente Mastella dari partai Katolik UDEUR mundur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang