Presiden Italia Halangi Prodi

Kompas.com - 25/01/2008, 10:47 WIB

ROMA, JUMAT - Presiden Italia Giorgio Napolitano mencoba menghalangi mundurnya Perdana Menteri Romano Prodi dan melakukan pembicaraan dengan sejumlah tokoh politik.

Napolitano, mulai Jumat (25/1) siang, bergerilya dari satu tokoh ke tokoh politik lain, seperti para pemimpin senat dan majelis rendah, dalam upayanya mengembalian Prodi ke posisi kepala pemerintahan.
 
Kubu Prodi (68) melemah ketika Partai Katolik UDEUR yang membelot dan berbalik melawannya. Ia kemudian memilih mundur meski sudah dihalangi sejumlah pemimpin termasuk Napolitano. Prodi memutuskan mundur ketika ia yakin bakal kalah dalam pemungutan suara terhadap mosi tidak percaya senat. Meski ada perubahan sikap mendadak dari para penentangnya, seperti tiga senator dan lima senator seumur hidup, Prodi akhirnya tetap kalah.

Napolitano, setelah berkonsultasi dengan para pemimpin partai dan parlemen, bisa memilih antara menggelar pemilihan umum baru atau menetapkan pemerintahan transisi. Tampaknya Napolitano akan memilih membentuk pemerintahan sementara yang tugasnya antara lain menyelesaikan reformasi undang-undang pemilu.

Namun kelompok oposisi sayap kanan selama ini menuntut pemilu baru sejak krisis politik yang meletup saat menteri kehakiman Clemente Mastella dari partai Katolik UDEUR mundur.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau