KEINGINAN Presiden Soeharto untuk lengser dari kursi kekuasaan, membuat BJ Habibie terdiam. Habibie masih
penasaran mengapa orang dekatnya itu hendak mundur dan ingin menjadi seorang negarawan.
"BEBERAPA saat saya diam, dengan harapan mendapat penjelasan mengenai alasan beliau mundur, serta
beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran tersebut. Namun ternyata tidak diberikan. Walaupun saya sangat
memahami Ketetapan MPR mengenai kedudukan dan kewajiban presiden dan wakil presiden, saya terpaksa
bertanya, "Pak Harto, kedudukan saya sebagai Wakil Presiden bagaimana?"
Pak Harto spontan menjawab, "Terserah nanti. Bisa hari Sabtu, hari Senin, atau sebulan kemudian, Habibie akan
melanjutkan tugas sebagai Presiden," jawab Soeharto.
Jawaban itu membuat Habibie terkejut. Ia bertanyadalam hati. Bukankah kevakuman dalam pimpinan negara
dan bangsa tidak boleh terjadi? Jika Soeharto benar-benar mundur, apakah hal itu sudah sesuai dengan
UUD '45 dan Ketetapan MPR? "Bagaimana kedudukan saya, sebagai Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar tanpa pengganti? Begitulah, dalam suasana pertemuan yang tidak lazim, serta suasana di lapangan yang tidak menentu dan cukup mengkhawatirkan, muncul berbagai pertanyaan yang amat mengganggu pikiran saya," kenangnya.
Untuk mengakhiri suasana pembicaraan yang tidak 'kondusif' itu, Habibie berusaha mengalihkan
perhatian. Ia memberanikan diri mengajukan pertanyaan. "Apakah Pak Harto sudah menerima surat pernyataan dari
Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita dan empat belas menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin?"
Soeharto lalu angkat bicara. Katanya, ia sudah mendengar kabar itu dari anaknya Mbak Tutut. Tetapi ia belum membaca suratnya. "Kemudian Pak Harto mengulurkan tangannya untuk saya jabat, sebagai isyarat bahwa ia menghendaki diakhirinya pertemuan tersebut. Pak Harto memeluk saya, dan mengatakan agar saya sabar dan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Pak Harto juga meminta agar saya menyelesaikan masalah Ginandjar dan kawan-kawan dengan baik."
Sebelum meninggalkan Cendana, Soeharto kembali berpesan. "Laksanakan tugasmu dan waktu tidak banyak lagi." Dengan perasaan yang tidak menentu dan pikiran yang dipenuhi tanda tanya, Habibie meninggalkan Cendana.
***
WAKTU terus berjalan. Di dalam mobil --perjalanan menuju ke Kuningan-- Habibie menugaskan ajudannya Kol
(AL) Djuhana segera menghubungi semua menteri di bawah koordinasi Menko Ekuin, dan meminta agar mereka hadir pada Sidang Ad Hoc Kabinet Terbatas di kediaman Habibie pukul 22.00.
"Dalam perjalanan dari Cendana ke Kuningan, saya panjatkan doa dengan bahasa yang tulus, dengan getaran
hati dan jiwa, ikhlas datang dari hati sanubari saya. Tuhan, berilah Pak Harto kekuatan dan petunjuk mengambil jalan yang benar dalam memimpin bangsa Indonesia sesuai kehendak-Mu. Berilah Pak Harto, kesabaran dan kesehatan yang beliau butuhkan. Ampunilah segala dosa Pak Harto, yang sengaja ataupun tidak sengaja."
Masih diwarnai ketegangan, Habibie kembali melantunkan doanya. "Oh Tuhan, saya tidak bertanya mengapa,
kenapa, dan bagaimana, semua ini dapat terjadi. Karena saya berkeyakinan bahwa semua ada artinya yang
sekarang saya belum memahami tetapi kelak saya ketahui. Jikalau saya diperkenankan memohonkan
sesuatu, maka berilah saya kekuatan, kesabaran untuk menghadapi semuanya dengan tenang dan menyelesaikan
semua persoalan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia dengan baik. Berilah saya petunjuk untuk
mengambil jalan yang benar, sesuai kehendakmu. Ampunilah dosa saya."
Sambil memanjatkan doa, Habibie mengaku merasa seperti dihipnotis. Ketika tiba di Kuningan ia disambut oleh
salah seorang Asisten Wakil Presiden, Jimly Asshiddiqie. Lelaki itu mengajaknya menuju ke pendopo.
"Di pendopo, saya tergeletak duduk beberapa menit dan seolah-olah dalam keadaan trance. Kemudian saya masuk
melalui ruang makan, di mana istri saya sedang membaca kitab suci Alquran. Di kamar tidur, setelah mengambil
wudhu dan melaksanakan shalat, saya mengucapkan doa yang sama seperti di dalam mobil," kenang Habibie.
Selain berdoa, BJ Habibie berulang kali membaca surah Al-Faatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.
"Sekitar pukul 21.45, istri saya datang ke kamar tidur untuk menyampaikan bahwa di pendopo semua Menko dan
banyak menteri hadir. Istri saya bertanya, ada apa?"
Dihadapan empat Menko dan 14 menteri yang hadir di pendopo, ia menjelaskan bahwa Kabinet Reformasi telah
dibentuk Soeharto dengan memerhatikan masukan dari Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar.
Esok harinya, 21 Mei 1998 Kabinet Reformasi akan diumumkan oleh Presiden Soeharto. Pada hari Jumat
tanggal 22 Mei 1998, anggota kabinet akan dilantik di Istana Negara. Hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, Pak
Harto akan menerima Pimpinan DPR/MPR di Istana Merdeka dan akan menyatakan mundur sebagai presiden.
"Oleh karena beberapa menteri dari Kabinet Pembangunan VII masih dibutuhkan untuk duduk dalam Kabinet
Reformasi, maka atas nama Pak Harto, saya mohon agar para menteri yang telah menandatangani pernyataan
bersama tersebut dapat mempertimbangkan untuk menarik kembali pernyataan mereka dan ikut memperkuat Kabinet
Reformasi. Penjelasan saya menimbulkan diskusi yang hangat," tuturnya.
(Bersambung)