SOEHARTO mengumumkan bahwa dirinya mundur dari kursi RI 1. Atas nama UUD 45, maka Habibie dilantik menjadi presiden. Filosofinya, seorang pemimpin harus berperilaku seperti mata air yang mengalirkan air
bersih dan bergizi. Sehingga semua kehidupan di sekitarnya dapat mekar dan berkembang. Sebaliknya, perilaku seperti mata air yang mengalirkan racun akan mematikan kehidupan sekitarnya.
Setelah menyampaikan pesan kepada bangsa Indonesia melalui TVRI, BJ Habibied mulai menyusun kabinet.
Setelah itu ia kembali masuk ke ruangan kerjanya di Kuningan untuk memantau perkembangan situasi lewat
internet.
"Melalui internet dan televisi, saya kembali memantau dan mendengar komentar dalam dan luar negeri mengenai
perkembangan di Indonesia. Sementara itu, terus berkembang berita di dalam dan luar negeri bahwa saya
tidak mampu bertahan lebih dari 100 jam. Yang sedikit optimistis meramalkan bahwa saya tidak akan bertahan
lebih dari 100 hari. Ada pula yang mempertanyakan, apakah kabinet dapat terbentuk? Apa konsep Habibie
dalam menghadapi semua masalah yang serba kompleks dalam keadaan yang tidak stabil dan tidak menentu?
Saya dijadikan manusia yang tidak memiliki kredibilitas, karena berbagai pernyataan yang bernada menghina dan mengolok, menyinggung perasaan siapa saja yang mengenal dan berkawan dengan saya."
Esok paginya, satu jam sebelum Habibie berangkat ke Istana Merdeka untuk mengumumkan nama para anggota
Kabinet Reformasi Pembangunan, nama Menhankam/Pangab akan ia berikan kepada tim khusus yang mendapat tugas menyusun pidato pengantar pengumuman para anggota Kabinet Reformasi.
Jumat, 22 Mei 1998 pukul 06.10, Habibie menelepon Jenderal Wiranto dan menyampaikan bahwa ia telah
memutuskan untuk memintanya tetap menjadi Menhankam/Pangab dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.
Sekitar pukul 07.30, Sintong Panjaitan masuk ke ruangan kerja BJ Habibie untuk memohon agar saya
menerima Danjen Kopassus Mayor Jenderal Muchdi PR bersama Mayor Jenderal Kivlan Zein yang membawa surat
dari Pangkostrad dan dari Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
"Saya bertanya apakah perlu saya terima sendiri? Saya banyak pekerjaan dan bahan masukan yang harus saya
baca dan nilai menumpuk. Saya meminta Jenderal Sintong menerima surat-surat tersebut atas nama saya. Namun,
hanya beberapa menit kemudian, Sintong Panjaitan kembali ke ruang kerja saya dan menyarankan untuk menerima surat tersebut, namun saya tidak boleh melewati tanda yang sudah diberikan di pintu masuk. Saya beranjak dari depan komputer berjalan didampingi Sintong Panjaitan ke pintu yang sudah ditentukan. Di depan pintu tersebut, saya menerima kedua jenderal yang menyampaikan surat-surat yang segera saya baca. Setelah saya selesai membaca, kedua jenderal mengucapkan, mohon petunjuk."
Dalam surat itu, Jenderal Besar Nasution menyarankan agar KSAD Jenderal Subagio Hadi Siswoyo diangkat menjadi Pangab dan Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto menjadi KSAD. Sekitar pukul 09.00, Habibie meninggalkan Kuningan menuju Istana Merdeka didampingi Sintong Panjaitan, Ahmad Watik Pratiknya, Jimly Asshiddiqie, Gunawan Hadisusilo, dan Fuadi Rasyid.
"Saya memasuki Istana Merdeka dari pintu gerbang depan sebelah barat. Di depan tangga, Pangab Wiranto menantikan kedatangan saya dan memohon untuk diperkenankan melaporkan keadaan di lapangan, tetapi
hanya empat mata. Saya katakan bahwa saya tidak memiliki banyak waktu, karena sudah terlambat satu jam
dan ini dapat menimbulkan spekulasi bahwa saya tidak berhasil membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan. Saya
persilakan Wiranto mengikuti saya ke ruang kerja Presiden di Istana Merdeka."
Di ruang kerja Presiden, Pangab melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak menuju Jakarta dan ada konsentrasi pasukan di kediaman BJ Habibie di Kuningan. Begitu juga di Istana Merdeka. Jenderal Wiranto mohon petunjuk. Dari laporan tersebut, Habibie berkesimpulan bahwa Pangkostrad bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab. Habibie lalu melihat jarum jam yang ada di tangannya. Kepada Wiranto ia memberikan perintah agar sebelum matahari terbit, Pangkostrad sudah aharus diganti.Kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke basis kesatuan masing-masing.
Jenderal Wiranto bertanya, "Sebelum matahari terbenam?"
"Saya ulangi, sebelum matahari terbenam, Jenderal!."
Wiranto bertanya lagi, "Siapa yang akan mengganti?"
Saya menjawab ringkas, "Terserah Pangab."
Sebelum Pangab meninggalkan ruang kerja presiden, ia berpesan agar Ny Ainun yang ketika itu masih di Kuningan segera dibawa ke Wisma Negara. Begitu juga Insana, istri Ilham, dengan Nadia dan Pasha (cucu Habibie), diterbangkan dengan helikopter dari Bandung ke Jakarta untuk bergabung. Ilham yang sebentar lagi mendarat di
Bandara Sukarno Hatta akan dibawa ke Wisma Negara. Sedangkan Thareq dan Widia istrinya sedang dalam
perjalanan.
"Semua keluarga saya sementara akan bergabung di Wisma Negara. Saya bertanya, untuk berapa lama kami harus
tinggal di Wisma Negara? Tergantung perkembangan keadaan, jawab Pangab." Setelah itu Habibie mengumumkan nama-nama anggota Kabinet Reformasi Pembangunan.
***
WAKTU terus berjalan. Pangab Jenderal TNI Wiranto menelpon BJ Habibie. Isinya, Wiranto mengusulkan Panglima Divisi Siliwangi dari Jawa Barat sebagai Pangkostrad. Memerhatikan Instruksi Presiden agar pergantian Pangkostrad harus dilaksanakan sebelum matahari terbenam dan karena masalah teknis pelantikan Panglima Divisi Siliwangi baru hanya dapat dilaksanakan keesokan harinya, maka Pangkostrad sementara akan dijabat oleh Asisten Operasi Pangab Letjen Johny Lumintang. Kepada Letjen Johny Lumintang akan diperintahkan untuk segera mengembalikan semua pasukan ke basis masing-masing sebelum matahari terbenam.
"Saya menyetujui usul Pangab untuk melantik Panglima Divisi Siliwangi, Mayjen Djamari Chaniago sebagai
Pangkostrad esok harinya pada tanggal 23 Mei 1998. Usul untuk menugaskan Letjen Johny Lumintang agar
menjadi Pangkostrad sementara juga dapat saya terima," ujarnya.
Setelah pembicaraan dengan Pangab selesai, ADC melaporkan kepada BJ Habibie bahwa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto minta waktu untuk bertemu. "Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Letjen Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto. Pak Harto baru 24 jam meletakkan jabatannya. Pak Harto yang
telah memimpin negara dan bangsa selama 32 tahun, tentunya memiliki pengaruh dan prasarana yang besar dan kuat. Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu dengan saya? Menurut peraturan yang berlaku, siapa saja yang menghadap presiden tidak diperkenankan membawa senjata. Mereka sebelumnya diperiksa dengan alat-alat yang canggih. Tentunya itu berlaku pula untuk Panglima Kostrad."
Bagaimana dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo juga akan diperiksa? Apakah pengawal presiden berani? Apa akibatnya jikalau Habibie tidak menerima Pangkostrad? Bukankah Pangkostrad memiliki hak untuk didengar
pendapatnya? Dialog adalah dasar untuk lebih saling mengerti dan pengertian adalah hasil dari dialog? Pengertian adalah awal dari toleransi. Toleransi adalah salah satu elemen dari perdamaian dan ketenteraman. Bukankah ini
maksud tujuan reformasi? Perdamaian dan ketenteraman di bumi Indonesia?
Segudang pertanyaan itu terus berputar di kepala BJ Habibie. Akhirnya pertemuan antara Prabowo dan BJ Habibie terjadi. Pada saat Prabowo masuk ke ruangan BJ Habibie, ia melihat menantu Soeharto itu tak membawa senjata. "Saya merasa puas," kata Habibie.
Saat berdialog dengan Habibie, Prabowo menggunakan bahasa Inggris.
"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo ketika itu.
Habibie lalu menjawab, "Tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti."
"Mengapa?" tanya Prabowo.
"Saya mendapat laporan dari Pangab bahwa gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Merdeka," jelas Habibie.
Mendengar penjelasan itu Prabowo memberikan klarifikasi. "Saya bermaksud untuk mengamankan presiden," kata Prabowo.
"Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas
Anda," jawab Habibie.
"Presiden apa Anda? Anda naif?" tanya Prabowo dengan nada marah.
"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,"
jawab Habibie.
Suasananya semakin tegang. Prabowo lalu mengajukan permohonan. "Atas nama ayah saya Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan
untuk tetap menguasai pasukan Kostrad," pinta Prabowo.
Habibie kemudian balik menjawab dengan nada tegas, "Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus
menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!"
Karena tetap ditolak, Prabowo kembali menawar. "Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk
masih dapat menguasai pasukan saya!"
Habibie kembali tegas. "Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja."
"Yang saya kehendaki adalah pasukan saya! jawab Prabowo.
Lagi-lagi Habibie menunjukan sikap kerasnya. "Ini tidak mungkin Prabowo!"
Pada saat itulah pintu ruangan terbuka. Sintong Panjaitan masuk dan mengatakan, "Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan."
Saat diingatkan, Habibie malah meminta waktu kepada Sintong untuk meneruskan dialognya dengan Prabowo. Kesempatan itu lalu dimanfaatkan Prabowo untuk meminta agar ia dapat berbicara melalui telepon dengan Pangab. "Saya tugaskan kepada salah satu ADC Presiden yang berada di ruangan untuk segera menghubungi Pangab.
Setelah menelepon ke Markas Besar ABRI, ADC Presiden menyampaikan bahwa Pangab tidak dapat dihubungi. Untuk kedua kalinya pintu terbuka dan Sintong Panjaitan mempersilakan Prabowo meninggalkan ruangan dengan alasan Gubernur Bank Indonesia sudah tiba dengan staf, bersama Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita.
"Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua
Prabowo. Kemudian, saya didampingi anak saya, Thareq, meninggalkan ruang tamu untuk menengok istri, anak,
dan cucu," kenang Habibie.
Di mata Habibie, Prabowo Subianto adalah putra tertua dari keluarga yang sangat terhormat, sangat intelektual, dan sangat kritis. Bahkan, ayah kandungnya adalah salah satu idola Habibie sejak masih di SMA. "Dedikasi Prabowo, begitu pula orang tua dan saudara-saudaranya terhadap bangsa dan negara, tidak perlu diragukan. Saya percaya bahwa itikad dan niat Prabowo untuk melindugi saya adalah tulus, jujur, dan tepat. Masalahnya iktikad dan niat yang baik dan tepat itu dilaksanakannya tanpa sepengetahuan dan koordinasi dengan Pangab. Kesimpulan ini saya ambil ketika Pangab melaporkan mengenai gerakan pasukan Kostrad. Dari laporan tersebut secara implisit dinyatakan bahwa tindakan Pangkostrad, tidak sepengetahuan dan dikoordinasikan dengan Pangab," jelas Habibie.
(Selesai)