900 Tewas Akibat Gizi Buruk di Bangladesh

Kompas.com - 28/01/2008, 17:28 WIB

DHAKA, SENIN - Sekitar 900 orang anak meninggal setiap hari akibat gizi buruk di Bangladesh. Pada umumnya karena kurangnya konsumsi makananan di usia paling dini. Demikian diungkapkan seorang peneliti gizi anak.

"Gizi buruk di usia dini itu akan mempengaruhi pertumbuhan anak-anak saat dewasa nanti, ujar Prof. Dr M Qudrat-e-Khuda Talukder dalam suatu seminar, Senin (28/1)

Seminar bertema "The Lancet’s Series on Maternal and Child Undernutrition" yang diprakarsai International Center for Diarrhoeal Diseases Research, Bangladesh (ICDDR’B) itu dihadiri oleh para pakar kesehatan, para pejabat organisasi non-pemerintah (NGO).

Menurut Lancet,sebuah majalah sains medis terkenal di dunia, lebih dari 3,5 juta ibu dan anak di bawah lima tahun tewas sia-sia setiap tahun di seluruh dunia akibat gizi buruk.

Dr Tahmeed Ahmed of ICDDR’B mengatakan mengintervensi gizi ibu dan anak dapat mencegah seperempat persen kematian anak-anak di negara-negara berkembang. "Bangladesh menempati urutan keemapat di dunia dalam daftar anak-anak penderita gizi buruk," katanya. (Xinhua)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau