SURABAYA, SENIN - Krisis ketahanan pangan yang diprediksi oleh pemerintah bakal terjadi tahun 2017, sebenarnya mulai mengancam bangsa yang dulu dikenal berhasil melakukan swasembada. Terutama untuk beberapa komoditi penting seperti beras, gula, kedelai dan jagung.
Faktor penyebabnya sangat kompleks. Namun, bila ditarik benang merah, hampir bisa dipastikan bahwa pangkal persoalan adalah kurangnya perhatian pemerintah pusat maupun daerah terhadap sektor pertanian sehingga terjadi pembusukan disegala lini.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Ketahanan Pangan dan Ancaman Resesi Ekonomi 2008 yang diselenggarakan oleh Institute For Strategig Economics and Finance (Insef) di Surabaya, Senin (28/1).
Dosen Faultas Ekonomi Universitas Jember Adhitya Wardhono mengatakan sejak satu dasawarsa terakhir ini pembangunan sektor pertanian macet. Pembusukan sektor pertanian itu semakin nyata dengan ditandatanganinya letter of intent antara IMF dengan pemerintah dimana di dalamnya meniadakan proteksi terhadap sektor pertanian.
Keterpurukan industri pertanian semakin kukuh dengan perubahan status Indonesia dari eksportir bahan pangan menjadi net importir untuk segala jenis bahan makanan. Sebagai gambaran, impor beras tahun 2007 lalu mencapai 1,5 juta ton. Impor kedelai rata-rata 1 juta ton.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang