Peternak Kehilangan Soeharto

Kompas.com - 28/01/2008, 19:20 WIB

BOGOR, SENIN  -  Sejumlah peternak di Bogor menyatakan sangat kehilangan Soeharto, walaupun mereka baru sekali bertemu Presiden RI ke-2 tersebut. Sementara itu, para pengurus Perterankan Tapos bertekad akan terus menjaga perternakan yang dirintis alamarhum dan mengupayakan mewujudkan cita-citanya, menjadikan pusat pembibitan sapi ternak  nasional.

“Kalau tidak ada perhatian dari Presiden Soeharto, mungkin kami tetap menjadi pertenak sapi seadanya. Berkat ada perhatian beliau kepada koperasi kami, sampai sekarang kualitas susu yang dihasilkan sapi-sapi kami adalah susu kualitas nomor satu,” kata Acep  Askari, seorang peternak sapi di Lewiliang, Kabupaten Bogor.

Menurut Acep, sebelum bertemu dengan  para pengurus perterankan Tapos dan kemudian mendapat perhatian dari  Soeharto, mereka tidak berani membayangkan bahwa dengan sapi ternaknya bisa menghidupkan keluarga dengan berkecukupan. Sebab, sebelumnya  Acep dan ratusan peternak sapi  di Bogor  memelihara ternak mereka secara tradisonal, sehingga produk susunya dihasillkan sedikit dan kualiatasnya tidak begitu baik.

“Sekarang pabrik susu paling senang menerima susu dari perternakan kami. Kalau tidak percaya, tanya saja ke pabriknya,” kata Acep sambil menyebut sebuan pabrik susu ternama.

Bukan  saja  bisa menghasilkan susu kualitas prima, sekitar  sebanyak 181 peternak sapi itu, kini sedikitnya masing-masing  memiliki lahan pertenakan seluas 4.500 meter persegi.  Padahal mereka hanya sekali menerima bantuan dari Soeharto yakni pada tahun 1997, dalam bentuk program Bantuan Presiden yakni bantuan pemodalan kepada koperasi mereka.

Sementara itu  I Made Soewecha, Koordinator Unit Tapos PT Rejo Sari Bumi, mengatakan, peternakan Tapos sampai saat ini masih  beroperasi dengan baik, walaupun tidak optimal. “Saat ini rata-rata ada 600 ekor sapi yang harus kami pelihara untuk mendapat bibit sapi unggul,” katanya.

Made mengatakan, pihaknya akan terus bersemangat mengelola Tapos karena berkeyakinan bahwa cita-cita alamarhum Soeharto - menjadikan Tapos sebagai pusat pembibitan ternak nasional - bukan hal muluk dan harus bisa dicapai. “Asalkan kami tidak diganggu oleh masalah-malah politis, niat kami mewujudkan cita-cita almarhum, yang juga merupakan cita-cita kami sendiri  sebagai komunitas perternak,  pasti bisa tercapai,” katanya.

Bahkan, lanjutnya,  semua pihak harusnya bisa  dan bertekad mewujudkan cita-cita itu, tidak cuma harus Tapos. Sebab, kebutuhan  bibit ternak di Indonesia sangat  besar dari tahun ke tahun, dan  dan belum ada peternak dalam negeri  yang mampu  mencukupinya sampai saat ini, katanya.

Made tidak bersedia mengungkap kontribusi perternakan Tapos yang telah diberikan kepada peternak Bogor. “Silakan tanya sendiri kepada para perternak sapi dan juga para mahasiswa atau peneliti perternakan. Kami rasa mereka tidak akan ragu mengungkap keuntungan apa yang didapat dengan berdirinya perternakan Tapos ini,” kata Made. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau