BOGOR, SENIN - Sejumlah peternak di Bogor menyatakan sangat kehilangan Soeharto, walaupun mereka baru sekali bertemu Presiden RI ke-2 tersebut. Sementara itu, para pengurus Perterankan Tapos bertekad akan terus menjaga perternakan yang dirintis alamarhum dan mengupayakan mewujudkan cita-citanya, menjadikan pusat pembibitan sapi ternak nasional.
“Kalau tidak ada perhatian dari Presiden Soeharto, mungkin kami tetap menjadi pertenak sapi seadanya. Berkat ada perhatian beliau kepada koperasi kami, sampai sekarang kualitas susu yang dihasilkan sapi-sapi kami adalah susu kualitas nomor satu,” kata Acep Askari, seorang peternak sapi di Lewiliang, Kabupaten Bogor.
Menurut Acep, sebelum bertemu dengan para pengurus perterankan Tapos dan kemudian mendapat perhatian dari Soeharto, mereka tidak berani membayangkan bahwa dengan sapi ternaknya bisa menghidupkan keluarga dengan berkecukupan. Sebab, sebelumnya Acep dan ratusan peternak sapi di Bogor memelihara ternak mereka secara tradisonal, sehingga produk susunya dihasillkan sedikit dan kualiatasnya tidak begitu baik.
“Sekarang pabrik susu paling senang menerima susu dari perternakan kami. Kalau tidak percaya, tanya saja ke pabriknya,” kata Acep sambil menyebut sebuan pabrik susu ternama.
Bukan saja bisa menghasilkan susu kualitas prima, sekitar sebanyak 181 peternak sapi itu, kini sedikitnya masing-masing memiliki lahan pertenakan seluas 4.500 meter persegi. Padahal mereka hanya sekali menerima bantuan dari Soeharto yakni pada tahun 1997, dalam bentuk program Bantuan Presiden yakni bantuan pemodalan kepada koperasi mereka.
Sementara itu I Made Soewecha, Koordinator Unit Tapos PT Rejo Sari Bumi, mengatakan, peternakan Tapos sampai saat ini masih beroperasi dengan baik, walaupun tidak optimal. “Saat ini rata-rata ada 600 ekor sapi yang harus kami pelihara untuk mendapat bibit sapi unggul,” katanya.
Made mengatakan, pihaknya akan terus bersemangat mengelola Tapos karena berkeyakinan bahwa cita-cita alamarhum Soeharto - menjadikan Tapos sebagai pusat pembibitan ternak nasional - bukan hal muluk dan harus bisa dicapai. “Asalkan kami tidak diganggu oleh masalah-malah politis, niat kami mewujudkan cita-cita almarhum, yang juga merupakan cita-cita kami sendiri sebagai komunitas perternak, pasti bisa tercapai,” katanya.
Bahkan, lanjutnya, semua pihak harusnya bisa dan bertekad mewujudkan cita-cita itu, tidak cuma harus Tapos. Sebab, kebutuhan bibit ternak di Indonesia sangat besar dari tahun ke tahun, dan dan belum ada peternak dalam negeri yang mampu mencukupinya sampai saat ini, katanya.
Made tidak bersedia mengungkap kontribusi perternakan Tapos yang telah diberikan kepada peternak Bogor. “Silakan tanya sendiri kepada para perternak sapi dan juga para mahasiswa atau peneliti perternakan. Kami rasa mereka tidak akan ragu mengungkap keuntungan apa yang didapat dengan berdirinya perternakan Tapos ini,” kata Made.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang