Tegal, Konversi Energi Baru Bulan Maret

Kompas.com - 28/01/2008, 20:56 WIB

TEGAL, SENIN  - Pelaksanaan konversi minyak tanah ke gas elpiji di wilayah Kota Tegal, rencananya akan dilaksanakan pada bulan Maret hingga April tahun ini. Selain rumah tangga, Pemerintah Kota Tegal juga meminta agar pedagang kaki lima dan industri kecil yang biasa menggunakan minyak tanah, ikut mendapatkan kompor gas dan tabung berisi tiga kilogram gas elpiji secara gratis.

Kepala Kantor Informasi dan Humas Kota Tegal, Chairul Huda usai rapat terbatas antara Pemkot Tegal dengan Pertamina, Senin (28/1) mengatakan, warga yang akan menerima bantuan merupakan warga setempat, pengguna minyak tanah, memiliki pengeluaran di bawah Rp 1,5 juta per bulan, dan belum menggunakan tabung elpiji 12 kilogram.

Jumlah keluarga yang diusulkan menerima bantuan kompor gas dan tabung berisi tiga kilogram gas elpiji sebanyak 55.000 kepala keluarga. Mereka terdiri dari 13.048 KK di Kecamatan Tegal Selatan, 15.976 KK di Kecamatan Tegal Timur, 13.717 KK di Kecamatan Tegal Barat, dan 12.259 KK di Kecamatan Margadana. 

Meski demikian, jumlah rumah tangga tersebut masih dinilai belum memadai. Selama ini, banyak pedagang kaki lima dan industri kecil yang menggunakan minyak tanah, seperti industri logam dan batik tulis. Jumlahnya ratusan dan tersebar di wilayah Kota Tegal.

Pedagang kaki lima dan industri kecil yang kebutuhan minyak tanahnya dapat dikonversi dengan gas, juga perlu mendapatkan bantuan kompor gas dan tabung gratis. Karena itu, Pemkot Tegal juga mengusulkan adanya penambahan jumlah penerima bantuan kompor gas dan tabung.

Menurut Chairul, rencananya, 6 Februari mendatang akan dilaksanakan sosialisasi konversi minyak tanah ke gas di tingkat Pemkot Tegal. Selanjutnya akan dilaksanakan pendataan ulang oleh konsultan dari Pertamina. Pembagian kompor gas dan tabung dilaksanakan pada bulan Maret hingga April.

Meski demikian, Pemkot Tegal berharap agar kuota minyak tanah tidak dikurangi terlebih dahulu, sebelum konversi minyak tanah ke gas selesai dilakukan. Ini untuk menghindari terjadinya gejolak di masyarakat.

Pedagang Eceran Minyak Tanah Resah
Menanggapi rencana konversi minyak tanah ke gas, sejumlah pedagang eceran minyak tanah mengaku resah. Mereka khawatir kehilangan penghasilan, akibat tidak dapat menjual minyak tanah.

Aminah Mukhayati (50), pedagang eceran minyak tanah di Jalan Kelapa Sawit Kota Tegal mengatakan, dengan adanya konversi minyak tanah ke gas, pedagang kecil seperti dirinya akan kehilangan penghasilan. Padahal selama ini, ia mampu menjual sekitar 30 liter minyak tanah per hari, dengan keuntungan sekitar Rp 9.000.

Menurut dia, apabila konversi minyak tanah ke gas tetap dilaksanakan, penjualan gas isi ulang hendaknya jangan hanya diserahkan pada agen atau pangkalan. Pedagang kecil seperti dirinya, hendaknya juga diberi kesempatan untuk ikut menjualnya.

WIE

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau