Derby Manchester Terancam Rusuh

Kompas.com - 29/01/2008, 02:13 WIB

MANCHESTER, SELASA - Derby sekota antara Manchester United dan Manchester City di Stadion Old Trafford baru digelar 10 Februari nanti. Namun, suasana kota itu sudah panas. Bahkan, partai seru itu makin terancam rusuh.

Dalam derby tersebut, MU merencanakan ritus mengheningkan cipta sejenak. Itu dilakukan untuk mengenang dan menghormati 50 tahun Tragedi Munich. Kecelakaan pesawat yang ditumpangi tim MU pada pada 1958 yang menewaskan 7 pemain The Red Devils dan 15 orang lainnya.

Namun, sebagian pendukung Man. City justru mencibirnya. Bahkan, mereka mengancam akan membuat kegaduhan, saat pemain MU dan suporternya mengheningkan cipta.

Sementara itu, federasi sepak bola Inggris (FA) sudah setuju akan memerintahkan pengheningan cipta pada pertandingan persahabatan antara Inggris lawan Swiss di Wembley, 6 Februari nanti.

Pihak Man. City sempat mengusulkan agar pengheningan cipta ditiadakan pada derby tersebut untuk menghindari pertikaian. Namun, MU menolak karena masalah sakral demi menghormati pahlawan mereka.

Ini masalah sensitif bagi MU. Membuat gaduh saat mereka mengheningkan cipta menghormati pahlawannya, sama saja menginjak-injak harga diri mereka. Maka, potensi rusuh antarsuporter menjadi besar.

Juru bicara FA, Adrian Bevington mengatakan, "Kami percaya momen ini harus dihormati. Apalagi, kecelakaan itu juga merupakan tragedi nasional. Hening selama semenit adalah cara terbaik untuk mengenang dan menghormati mereka yang wafat dalam tragedi tersebut."

Meski begitu, kekhawatiran akan adanya beberapa suporter ultra yang merusak keheningan tersebut tetap besar. Bahkan, dikhawatirkan sudah terjadi pada partai Inggris lawan Swiss 6 Februari nanti.

Apalagi pada partai derby Manchester nanti. Sudah bukan rahasia, rivalitas tim sekota itu amat dalam dan sengit. Jika sebagian suporter Man. City membuat gangguan pada partai Inggris-Swiss, hampir dipastikan akan melakukan hal sama di partai derby Manchester. Artinya, potensi rusuh akan sangat besar. Sebab, suporter MU pasti akan marah.

Pihak suporter Man. City sudah meminta MU untuk mengganti doa dengan tepuk tangan demi menghormati Tragedi Muenchen. Sehingga, gangguan dari suporter liar tak akan kentara.

"Kami mohon kepada MU mengganti doa dengan tepuk tangan. Sehingga, aksi para suporter idiot yang ingin mengganggu akan tenggelam oleh riuh tepuk tangan. Saya kira ini cara terbaik untuk mencegah rusuh," kata Sekretaris organisasi suporter Man. City, Kevin Parker.

Namun, usul itu ditolak. Sebab, tidak sopan mengenang para korban yang tewas pada Tragedi Muenchen dengan tepuk tangan.

"Mengheningkan cipta selama semenit untuk mengenang mereka yang meninggal dalam kecelakaan itu adalah cara terbaik," tegas juru bicara MU, Phil Townsend.

Pelatih MU, Sir Alex Ferguson menambahkan, "Kami akan melakukan hal yang benar, yakni mengheningkan cipta. Kami tak akan terpengaruh oleh mereka yang mencoba mengganggu."

Namun, gangguan sekecil apa pun bisa meletupkan keributan. Sebab itu, Man. City begitu khawatir sebagian suporter liarnya bakal berulah. Maka, Manajer Sven Goran-Eriksson dan kapten tim Richard Dunne menulis surat kepada 3.000 suporter Man. City. Mereka meminta suporter menghormati rasa duka MU. (AP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau