Tiga Gelembung Udara Baru Muncul di Siring

Kompas.com - 29/01/2008, 22:24 WIB

SIDOARJO,SELASA – Tiga gelembung udara baru yang mengandung air dan gas kembali muncul di Desa Siring, Porong, Sidoarjo. Warga Siring yang diresahkan dengan semakin banyaknya gelembung udara di daerah mereka mendesak pemerintah mencari solusi agar warga tidak resah.

Ketiga gelembung udara ini muncul di RT 1, 2, dan 3 RW 1 Desa Siring. Adapun posisi ketiga gelembung dari pusat semburan lumpur Lapindo berjarak sekitar satu kilometer sebelah barat pusat semburan.

Gelembung udara pertama muncul dari bekas sumur bor milik Supar di RT 2 RW 1 pada Sabtu (26/1). Kemudian gelembung udara kedua muncul di lahan yang penuh tanaman liar di wilayah RT 3 RW 1 pada Selasa (29/1) pagi. Selanjutnya pada Selasa (29/1) siang, muncul lagi gelembung udara di sumur bor milik Andi di RT 1 RW 1 Siring.

Berdasarkan pengamatan, semburan air pada gelembung udara di RT 1 dan RT 3 tidaklah tinggi atau hanya sekitar 10 sentimeter tetapi di kedua gelembung itu mengeluarkan gas yang sangat mudah terbakar. Adapun gelembung di RT 2, menurut sejumlah warga tingginya bisa mencapai satu meter. Gas juga keluar dari gelembung udara ini.

Sejumlah warga sempat membuktikan adanya gas yang keluar dari gelembung-gelembung udara ini dengan membakarnya menggunakan korek api. Saat korek disulut, gas seketika terbakar dan api yang besar membumbung hingga pada akhirnya api itu mati sendiri.

Dengan munculnya tiga gelembung baru ini berarti sudah ada 81 gelembung udara yang muncul di sekitar pusat semburan lumpur Lapindo di Porong. Seluruh gelembung berada di radius 1,5 kilometer dari pusat semburan lumpur dan kebanyakan lokasinya di pemukiman warga di sebelah selatan dan barat pusat semburan tempat patahan berada dan penurunan tanah terjadi.

Supar dan sejumlah warga Siring lainnya heran dengan pernyataan Badan Pelaksana Badan Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BP BPLS) yang menyatakan daerah Siring masih layak ditinggali. Munculnya gas yang sangat mudah terbakar, belum lagi air yang keluar, seharusnya sudah cukup untuk menyatakan Siring tidak layak ditinggali.

“Karena sudah tidak layak, pemerintah seharusnya mencarikan solusi bagi kami supaya kami tidak terus dihantui keresahan,” ucap Supar. (APA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau