JAKARTA, RABU - Realisasi ekspor pupuk urea pada 2007 hanya mencapai 96 persen dari total izin ekspor yang mencapai sekitar 736 ribu ton. Sebanyak, 30 ribu ton dialihkan ke pasar dalam negeri.
"Tadinya mau diekspor, tapi tidak jadi karena ada kebutuhan (pupuk) di dalam negeri," kata Direktur Pemasaran PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) Holding, Bowo Kuntohadi, kepada Antara, di Jakarta, Rabu (30/1).
Ia mengatakan rencana ekspor sebesar 30 ribu ton tersebut merupakan jatah ekspor PT Pupuk Kujang yang batal direalisasikan karena pasokan pupuk dalam negeri kurang. Menanggapi pertanyaan apakah ada dampaknya pengalihan rencana ekspor ke domestik bagi perusahaan, Bowo mengatakan tidak ada dampaknya. "Kami mendukung program pemerintah untuk mengutamakan kebutuhan (pupuk) dalam negeri," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan, Agus Tjahjono, mengatakan sejak awal Januari ekspor pupuk sudah dihentikan guna menjaga pasokan pupuk di dalam negeri. Hal itu dilakukan, kata dia, karena ada gangguan produksi PT Pupuk Kujang, sehingga dikhawatirkan pasokan pupuk kurang pada musim tanam tahun ini.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 76/Permentan/ O.T.140/12/2007 tertanggal 28 Desember 2007, alokasi pupuk urea bersubsidi tahun ini mencapai sekitar 4,3 juta ton yang diperuntukan bagi tanaman pangan (2,7 juta ton), hortikultura (387.109 ton), perkebunan (926,681 ton), peternakan (12.403 ton), dan perikanan (143.807) ton.
Menurut Direktur Pemasaran PT Pusri Holding Bowo Kuntohadi, kebutuhan tersebut bisa dipenuhi mengingat kapasitas produksi mencapai sekitar delapan juta ton. Bahkan, pihaknya memproyeksikan produksi pada tahun ini sekitar 6,4 juta ton. "Selain untuk pupuk urea bersubsidi, produksi urea juga ditujukan untuk memasok kebutuhan industri dan perkebunan besar yang tidak mendapat subsidi, di samping ekspor," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang