Pemasok Beras ke Cipinang Masih Takut

Kompas.com - 30/01/2008, 20:05 WIB

CIREBON, RABU - Puluhan penggilingan padi di Kabupaten Cirebon sudah seminggu tidak berani mengirimkan beras ke Pasar Induk (PI) Cipinang, Jakarta, karena harga beras anjlog menyusul razia Polda  Metro Jaya terhadap beras di pasar tersebut, sehingga ribuan ton beras menumpuk tak terkirim.

"Harga beras kelas medium super anjlok sampai Rp5.300 per kilogram, padahal biasanya paling rendah Rp5.600 per kilogram sehingga rata-rata penggilingan padi di Cirebon sudah seminggu tidak kirim beras ke Cipinang," kata H Khanan, salah satu pemasok beras terbesar dari Desa Bakung Lor, Kabupaten Cirebon, Rabu (30/1).

Ia mengungkapkan, baru hari ini mengirim sembilan ton (satu truk) dari biasanya antara 3 sampai 4 truk, dan ternyata harga masih anjlok sehingga kemungkinan tidak akan lagi mengirim sebelum harga normal."Hari ini terpaksa bongkar di Cipinang dengan harga Rp5.300 per kilogram. Jadi rugi Rp200 per kilogram," katanya.

Ia mengungkapkan, harga beras anjlok karena hanya sedikit pedagang yang berani membuka tokonya, akibatnya pembeli sedikit tetapi suplai dari daerah tetap sehingga harga jatuh.

"Biasanya dari Desa Bakung Lor dan Bakung ini setiap hari mengirim 30 sampai 35 truk ke Pasar Induk Cipinang, tetapi beberapa hari ini hanya mengirim 5 sampai 7 truk," katanya.

Berkaitan dengan beras oplosan, ia menjelaskan pengoplosan dilakukan karena dua alasan yaitu membuat homogen beras yang akan dikirim dan kedua karena permintaan dari konsumen.

Ia mengungkapkan, sebagian besar penggilingan padi masih manual sehingga  persentase beras patah dalam sekali proses sosoh tidak sama yaitu antara 3 sampai 7 persen sehingga perlu ada pencampuran untuk menentukan derajat persentase beras patah yang seragam.

"Tidak mungkin puluhan karung persentasenya tiga persen, tetapi yang puluhan lainnya sampai 7 persen dalam harga yang sama, sehingga perlu dioplos sebelum dikarung agar merata," katanya.

Yang kedua karena permintaan pembeli, misalnya yang tersedia beras kualitas 1 dan kualitas 3, sementara pembeli menginginkan beras kualitas 2, maka akhirnya beras kualitas 1 dan 3 dioplos untuk mendapatkan beras kualitas 2. "Oplos beras ini sejak dulu berlangsung dan tidak pernah ada masalah karena harga jual beras pasti tergantung kualitasnya," katanya.

Sementara Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro (APKA) setempat, Sandi Wiranata, mengatakan selain harga anjlok, para pedagang beras tidak mengirim ke Cipinang karena takut berasnya ditahan polisi dengan tuduhan oplosan.

"Selama ini sangat jarang beras yang murni, pasti ada pengoplosan untuk mencapai standar tertentu. Masalahnya terletak pada komposisi pengoplosannya.  Kalau masih batas wajar sebenarnya tidak apa-apa, itu tidak berpengaruh besar terhadap kualitas," katanya.

Sandi menyesalkan razia beras oplosan itu, karena yang lebih penting adalah razia beras yang proses produksinya menggunakan zat pemutih kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

"Lebih baik operasi diarahkan pada penggunaan bahan kimia untuk mempercantik penampilan beras. Itu berbahaya bagi kesehatan. Kalau oplos, itu tidak ada dampak bagi kesehatan, apalagi rata-rata pedagang mengoplosnya dalam komposisi wajar," katanya.

Ia mengungkapkan, sedikitnya setiap hari ada 250 ton beras anggota APKA yang dipasok ke Cipinang, belum termasuk pedagang beras lain sehingga secara keseluruhan bisa mencapai 500  ton setiap hari.

"Sekarang ini pasokan ke Jakarta dan sekitarnya menurun sampai 80 persen dan sejumlah pedagang  terpaksa mengalihkan sebagian besar pasokan beras ke kota lain seperti Bandung, Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor," katanya.

Menurut Sandi, kendati pemerintah melalui Menperdag Marie Pangestu sudah menyatakan beras oplos diizinkan, tetapi pedagang masih ketakutan karena belum ada keputusan secara tertulis. "APKA mendesak pemerintah segera mengeluarkan pernyataan tertulis. Hal itu penting supaya ada pegangan bagi para pedagang beras," katanya.(Antara/put)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau